Animator Indonesia Ikut Bikin Film Ant Man
Unisi News , September 18, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Unisi News

1805360antman-ants-Featured780x390

Dibalik kesuksesan film superhero ‘Ant-Man’, ada sosok animator Indonesia, Ronny Gani, yang ikut terlibat dalam penggarapan animasinya. Setelah sebelumnya sibuk terlibat dalam penggarapan animasi untuk film superhero The Avengers: Age of Ultron, belum lama ini animator Indonesia, Ronny Gani beserta sekitar 20 animator lainnya di perusahaan efek visual Double Negative, tempat ia bekerja di Singapura, dihadapi dengan tantangan yang baru ketika harus menggarap animasi untuk film Ant-Man.

Challenge-nya bagaimana untuk menganimasi karaktersuperhero yang skalanya mini, karena dia kan kecil sekali,” papar Ronny Gani ketika dihubungi oleh Voice of America(VOA) belum lama ini.

Untuk penggarapan animasi film yang bercerita tentang sang manusia semut ini, Ronny membutuhkan waktu sekitar empat bulan.
1504262ronnygani300x400
Pada waktu itu ia baru saja pindah ke perusahaan Inggris, Double Negative cabang Singapura, setelah sebelumnya bekerja di perusahaan Industrial Light and Magic yang juga berlokasi di Singapura.

Ronny cukup beruntung bisa langsung terlibat dalam penggarapan animasi untuk proyek film Hollywood yang telah memakan biaya sebesar Rp1,8 triliun di perusahaan yang baru ini.

Walaupun bekerja di belakang layar, sebagai seorang animator Ronny tetap harus menggunakan perasaannya dalam menggarap animasi, terutama dalam film Ant-Man kali ini.

“(Film Ant-Man) lebihaction-comedy. Ada humornya. Jadi dalam setiap animasi yang kita bikin juga kemungkinan harus bisa memasukkan unsur humornya itu,” ujar lulusan arsitektur dari Universitas Indonesia yang memutuskan untuk banting setir ke dunia animasi ini.

Semangat Berbagi Ilmu Animasi

Dunia animasi memang sudah dicintai Ronny sejak dulu. Inilah yang membuatnya selalu semangat jika diminta untuk berbagi ilmu dan pengalamannya di bidang animasi.

Baru-baru ini ia berbicara di ajang Ted Talks yang diadakan oleh perusahaan P&G di Singapura, dimana ia menjelaskan tantangan yang ia hadapi ketika baru memulai karirnya di bidang animasi.

Tidak seperti sekarang, dulu belum begitu banyak institusi yang mengajarkan pendidikan animasi secara formal.

“Jadi aku harus gerilya belajarnya. Mengambil dari buku mana, download tutorial dari Internet,” jelas animator yang juga pernah menggarap film Transformers: Age of Extinctiondan Pacific Rim ini.

Selain menjadi pembicara, Ronny juga masih aktif mengajarkan teknik animasi melalui kelas online miliknya di Internet, Bengkel Animasi.

Karena masih mengedepankan karirnya, Ronny pun membatasi jumlah murid yang ia terima. Saat ini murid Ronny berjumlah lima orang Indonesia yang tinggal di berbagai penjuru, antara lain Malaysia, Jakarta, Bandung dan Malang. Mereka semua berkomunikasi diluar jam kantor melalui telpon konferensi.

“(Murid-muridnya) ada yang baru ingin masuk kuliah atau sudah mulai MOS (Masa Orientasi Siswa), which amazinglydia sudah punya basic animation yang cukup lumayan menurutku untuk anak yang masih seumur segitu,” papar pria yang suka naik gunung ini.

Semangat para muridnya dalam mempelajari animasi ternyata juga menular kepadanya. “Sebagai yang ingin mengajar, jadi semangat melihat ‘wah, ini anak semangat gituuntuk belajar,’ jadi keinginan aku untuk membagi ilmuku ke dia jadi lebih termotivasi juga,” kata Ronny menutup wawancara dengan VOA.

nextren.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 2 =