Cek Toko Sebelah: Tangis dan Tawa dalam Keluarga
Latar , January 20, 2017, Unisi Radio

Ernest Prakasa kembali menghadirkan humor sambil mengangkat isu yang related dengan kehidupan orang Indonesia pada umumnya. Jika pada film pertamanya “Ngenest”, ia ‘curhat’ tentang suka dukanya hidup sebagai etnis Tionghoa yang hidup di Indonesia, dalam film keduanya ini Ernest menampilkan isu keberagaman yang terjadi di Indonesia dari sisi kehidupan keluarga.

cek-toko-sebelah

source: twitter.com

Koh Afuk (Chew Kin Wah) adalah pedagang toko kelontong yang sukses dan ingin mewariskan tokonya kepada anak bungsunya, Erwin (Ernest Prakasa). Padahal, Erwin baru saja mendapat promosi jabatan untuk menjadi Brand Director Southeast Asia dan akan pindah ke Singapur. Erwin pun dilema. Ia tidak ingin mengecewakan ayahnya, tapi ia juga merasa hasil studinya sampai luar negeri dan karier yang telah ia bangun akan menjadi sia-sia jika harus ditinggalkan untuk mengelola toko.

Di sisi lain, Yohan (Dion Wiyoko) sebagai anak sulung merasa kecewa akan keinginan ayahnya. Ia memandang Erwin sebagai anggota keluarga yang sukses tapi tidak pernah berkontribusi untuk keluarga dan semestinya dirinya lah yang berhak atas kepemilikan toko. Namun, Yohan sendiri terlanjur dicap sebagai anak yang kurang bisa bertanggung jawab dengan masa lalunya pernah menjadi pengguna narkoba, di-DO dari kampus, dan dipenjara. Yohan bahkan menikahi Ayu (Adinia Wirasti) yang sebenarnya tidak disetujui oleh ayahnya lantaran beda etnis.

cek-toko-sebelah

Meskipun begitu, Ayu adalah sosok istri yang sabar dan dewasa. Ia selalu mengingatkan Yohan untuk tetap menghormati ayahnya dan berlapang dada. Ayu juga selalu berusaha untuk bisa mengakrabkan diri dengan mertuanya. Ia bahkan berusaha untuk tidak memberatkan suaminya dan merintis usaha toko kue sendiri.

Selain Ayu, hadir tokoh Natalie (Gisella Anastasia) yang juga seorang wanita independen. Natalie dan Erwin telah berpacaran sejak mereka kuliah di Sidney. Sebagai seseorang dengan pendidikan tinggi dan ambisius, Natalie pun menentang keras jika Erwin harus melepaskan kesuksesannya untuk menuruti keinginan orangtua. Erwin pun semakin bingung dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa toko Koh Afuk akan dibeli oleh seorang developer bernama Robert (Tora Sudiro) jika tidak diteruskan oleh Erwin.

cek-toko-sebelah

Semua tokoh dalam film ini memiliki karakter yang kuat dengan porsi yang pas. Tidak ada peran yang lebih unggul. Satu peran dan peran yang lain saling menguatkan jalan cerita yang ada. Ernest sebagai sutradara, penulis naskah, dan pemain pun tidak terkesan serakah akan porsinya dalam menampilkan karakter Erwin. Masing-masing karakter bisa diekspos dengan cara masing-masing dan menjadi logis, tidak berlebihan ataupun terkesan dibuat-buat.

Unsur komedi yang disajikan juga tidak melunturkan konflik yang diangkat. Baik komedi maupun dramanya, keduanya terasa maksimal, tidak ada kesan memaksa dalam membaurkannya. Salah satunya dengan peran yang dimainkan Asri Welas sebagai bos di tempat Erwin bekerja. Aktor-aktor pendukung lainnya pun tidak terkesan hanya menjadi ‘pelengkap’ tapi juga ikut mendukung alur cerita yang diangkat. Pesan yang hendak disampaikan benar-benar mampu tersampaikan.

Secara visual, film ini tidak ada celanya. Pengambilan gambarnya menggunakan angle-angle yang tepat, tidak memberikan kesan bosan. Artistiknya pun pas. Detail-detail dalam tiap setting juga disuguhkan dengan rapi. Tampaknya Ernest Prakasa memang telah belajar banyak dari film pertamanya. Visual dalam film ini disajikan dengan sangat rapi.

Ernest Prakasa berhasil membuat kita terlarut dalam suasana keluarga yang mengena dikemas dalam humor yang cerdas, sederhana dan tidak bertele-tele.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − four =