Fantastic Beasts and Where to Find Them: Petualangan Seorang Penyihir dengan Hewan-Hewan Gaib Peliharaannya
Latar , November 18, 2016, Unisi Radio

Film “Fantastic Beasts and Where To Find Them” menjadi obat rindu bagi fans Harry Potter. Film bergenre fantasi ini merupakan pengembangan dari buku J.K. Rowling dengan judul yang sama.

photo-1-1

Buku yang tadinya hanya berbentuk seperti buku pelajaran sihir yang digunakan oleh Harry Potter dan murid-murid sekolah sihir Hogwarts, dikembangkan menjadi kisah perjalanan Newt Scamender (Eddie Redmayne), sang penulis buku pelajaran tersebut. Scamender bukanlah pahlawan di Hogwarts pada saat dia bersekolah. Bahkan, dia dikeluarkan dari Hogwarts karena terlalu menggemari hewan-hewan gaib. Dia juga bukan berasal dari asrama Griffindor yang menjadi favorit orang banyak, melainkan dari asrama Hufflepuff.

photo-2-1

Cerita ini tidak mengangkat setting Hogwarts melainkan berlatar belakang tahun 1920-an di kota New York. Kala itu, ada penyihir hitam bernama Grinderwald yang berupaya membuat kaum penyihir bisa menguasai kaum non-penyihir, atau oleh penyihir di Amerika disebut No-Maj. Di saat yang bersamaan, ada sekelompok No-Maj yang mulai menyadari keberadaan kaum penyihir di dunia dan menganggap keberadaan mereka mengancam kehidupan No-Maj. Beberapa kasus aneh terjadi di kota New York dan bertepatan dengan hadirnya Newt Scamander dengan koper ajaib penuh dengan makhluk gaib. Newt dicurigai menjadi dalang dari kasus-kasus aneh yang terjadi dengan makhluk gaib yang dia pelihara. Ia pun dipenjara oleh Auror bernama Graves (Colin Farrell). Akhirnya, dengan dibantu seorang No-Maj bernama Jacob Kowalski (Dan Fogler), seorang mantan Auror bernama Tina Goldstein (Katherine Waterston) beserta dengan adiknya, Queenie Goldstein (Fine Frenzy), Newt berhasil mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah. Newt justru membuktikan bagaimana hewan-hewan gaib peliharaannya yang ia simpan di dalam koper ajaibnya sesungguhnya tidaklah berbahaya.

photo-3

Berbicara tentang film ini tampaknya tidak bisa tanpa membandingkannya dengan seri Harry Potter yang notabene menjadi awal kemunculan cerita dunia sihir J.K. Rowling. Harus diakui, film ini tidak seheroik sekuel Harry Potter. Meskipun tidak terlalu banyak adegan action, tapi David Yates tetap menyisipkan beberapa adegan yang membuat penonton cukup deg-degan. Kesan magis yang disuguhkan lewat mantra-mantra juga mungkin tidak terlalu ‘wah’. Mungkin ini karena fokus pada cerita ini terletak pada hewan-hewan gaib yang hidup di dunia sihir sehingga permainan efek visualnya pun lebih untuk mendukung fantasi ini. Tidak hanya itu. Ada banyak kejutan-kejutan dalam film ini, seperti munculnya Johnny Depp sebagai salah satu karakter yang menjadi sinyal kelanjutan dari sekuel film ini, dan ada beberapa nama besar yang pastinya tidak asing bagi fans Harry Potter disebutkan di beberapa adegan.

Dari segi akting, Eddie Redmayne berhasil membawakan karakter Newt Scamander yang cerdas, tetapi kurang pandai bergaul. Ia bahkan mampu memperlihatkan kesan kikuk dan pemalu dengan gerakan-gerakan kecil tetapi maksimal. Akting Colin Farrell juga menjadi salah satu faktor berhasilnya plot twist dalam film ini. Fine Frenzy juga sukses membawakan karakter Queenie yang anggun dengan kemampuan Legilimens-nya (pembaca pikiran) yang luar biasa.

Film berdurasi 2 jam 13 menit ini layak untuk ditonton dan sangat menghibur. Namun, sebelum menonton film ini, akan menjadi penting untuk memahami beberapa detail yang disampaikan lewat sekuel Harry Potter supaya tidak bingung mengikuti jalan ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − seven =