Fast Break 1 Oktober 2015 jam 10.00
FastBreak , October 1, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Sultan Peroleh Gelar Doktor Kehormatan Bidang Hukum dari UTAS

pagi (1)

Gubernur Daerah DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X memperoleh gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa di Bidang Hukum dari The University of Tasmania (UTAS) Australia. Gelar tersebut diberikan sebagai penghargaan dan pengakuan atas komitmen Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogya dalam bidang demokrasi, keadilan sosial, dan toleransi.

Kepala Bagian Humas Biro UHP Setda DIY, Iswanto mengatakan Universitas Tasmania menilai Gubernur DIY layak untuk mendapatkan gelar honoris causa tersebut dengan berbagai pertimbangan. Antara lain Sultan dikenal sebagai tokoh politik yang bersih, netral, dan berpengaruh besar dalam proses demokratisasi di Indonesia.

“Kapasitasnya sebagai Gubernur dinilai telah menunjukkan komitmen atas pembangunan politik, sosial dan ekonomi di DIY. Visinya untuk membangun ekonomi daerah berbasis pengetahuan dengan fokus pada pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian, pariwisata dan kebudayaan, dinilai sesuai dengan visi pendidikan UTAS,” tutur Iswanto di Kompleks Kepatihan, Rabu (30/9/2015).

Penganugerahan gelar kehormatan dilaksanakan di Hobart Town Hall, Australia, pada Selasa (29/9/2015) Selain dihadiri civitas akademika UTAS, juga dihadiri delegasi Pemda DIY,  Rektor UGM, Rektor UKRIM, Rektor UAD, dan Koordinator Kopertus Wilayah V. Dalam kesempatan tersebut Sultan HB X memberikan sambutan bertajuk “Manunggaling Kawulo Gusti (Unification Of King and People) : Main Pilar Of Cultural, Democracy, Social Justice, and Tolerance Of Yogyakarta Society”.

“Selain menerima gelar kehormatan doktor di bidang hukum, Gubernur DIY beserta rombongan juga mengadakan banyak kegiatan yang berkaitan kerja sama antara Pemda DIY dengan Pemerintah Australia,” kata Iswanto.

Dalam kunjungan kerja pengembangan kerjasama ini, Sultan didampingi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda DIY Sulistiyo, Kepala BKPM DIY, Totok Prianamto dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono.

krjogja.com

—————————————————————————————————————————————–

Status Yogyakarta Jadi Kota Batik Dunia Terancam Dicabut

Status Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai Kota Batik Dunia yang disematkan oleh World Craft Council (WCC) pada 2014 terancam dicabut. Sebab, regenerasi pengrajin batik di Yogyakarta terhambat dengan sedikitnya minat masyarakat untuk menjadi pengrajin batik. Regenerasi adalah satu dari tujuh syarat pengukuhan Kota Batik Dunia.

“Gelar itu usianya hanya empat tahun. Kalau tidak bisa mempertahankan, ya, dicabut,” kata Sekretaris Jenderal Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY Zainal Arifin Hasoead saat ditemui di kantor Dekranasda DIY, Rabu, 30 September 2015.

Tujuh kriteria itu adalah nilai historis, orisinalitas, upaya pelestarian melalui regenerasi, nilai ekonomi, ramah lingkungan, mempunyai reputasi internasional, serta persebarannya. Sedangkan jumlah pengrajin yang tercatat di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi DIY ada 441 orang, baik pengrajin besar maupun kecil.

“Kalau perlu Pak Jokowi (Presiden) mengharuskan menteri-menterinya pakai batik, bukan jas lagi, sehingga menambah semangat orang menjadi pengrajin batik,” ujar Zainal.

Berbagai upaya tengah dilakukan untuk menggenjot jumlah pengrajin agar bertambah. Menurut desainer dan pengusaha batik, Afif Syakur, perlu ada kenaikan upah pengrajin hingga setara upah minimum kota atau kabupaten (UMK). Sebab, ada pengrajin rumahan yang mengerjakan proses batik di rumah berdasarkan pesanan. Ada pula yang bekerja pada pengusaha batik yang upah rata-ratanya sudah setara UMK.

“Yang rumahan itu ada yang satu kain dihargai Rp 2 juta tapi dikerjakan tiga bulan,” tutur Afif. Sebab, proses batik tulis memakan waktu lebih lama.

Kepala Dinas Pendidikan DIY Baskara Aji, yang merangkap sebagai pelaksana tugas Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi DIY, telah mewajibkan sekolah untuk menjadikan batik sebagai muatan lokal. Rata-rata sekolah menjadikan seni membatik sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Ada pula yang menjadi kurikulum, seperti di SMK Negeri 5 Yogyakarta dan SMK Batik di Tancep, Gunung Kidul. Sedangkan SMA Stella Duce mengharuskan siswanya mengenakan pakaian batik buatan sendiri. “Sebanyak 400 guru juga dikursuskan membatik,” ucap Baskara.

Dia mengakui pangsa pasar batik di Yogyakarta sedang menggeliat lagi. Bahkan sejumlah pengrajin telah memasarkannya hingga luar negeri. Omzet ekspor tekstil batik senilai US$ 36,53 juta, sedangkan ekspor pakaian batik mencapai US$ 11 juta.

tempo.co

—————————————————————————————————————————————–

Istana Minta Penyebar Fitnah terhadap Jokowi Segera Bertobat

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan, fitnah terhadap Presiden Joko Widodo yang disebut akan meminta maaf kepada keluarga Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah sangat meresahkan. Ia meminta para penyebar fitnah menyadari kesalahannya sebelum ada langkah hukum yang ditempuh.

“Kami ingin memberikan semacam peringatan kepada teman-teman yang suka memberikan fitnah seperti itu. Kalau yang bersangkutan tidak segera, katakanlah, tobat, gak perlulah. Dalam keadaan seperti ini, kita harusnya bersatu,” kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/9/2015).

Pramono mengungkapkan, Presiden Joko Widodo sebenarnya tidak ingin mencampuri fitnah yang ditujukan kepadanya. Akan tetapi, karena dianggap meresahkan dan mendiskreditkan Presiden, maka para menteri mencoba memberi peringatan dan meminta bantuan Polri untuk mencari tahu pelakunya.

Saat ini, kata Pramono, pelaku penyebar fitnah telah diketahui, khususnya pelaku yang menyebarkan pesan berantai mengenai rencana Jokowi bertemu dengan keluarga PKI dan Gerwani seluruh Indonesia di Gelora Bung Karno, Jakarta.

“Kita ingatkan terlebih dulu. Negara kita negara demokrasi, kita menghormati hukum. Kita tidak ingin juga nanti ada kesan bahwa selalu Presiden menggunakan kekuasaannya,” ungkap Pramono, menjawab soal langkah hukum yang akan ditempuh.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − one =