Fast Break 10 September 2015 jam 14.00
FastBreak , September 10, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Yogya Optimis Bebas Buta Aksara di 2016

buta aksara

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta optimis di wilayahnya dapat bebas buta aksara pada 2016.

Selain prosentase angka dari tuna aksara sudah rendah, kini banyak program dari pemerintah yang bertujuan untuk menuntaskan buta aksara.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Non-Formal (PNF) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Mukti Wulandari mengatakan bahwa pada tahun ini, masyarakat di Kota Yogyakarta yang bebas dari buta aksara mencapai 98%.

Pihaknya optimis di tahun 2016, Kota Yogyakarta dapat bebas dari tuna aksara.

“Kota Yogyakarta, masyarakat yang bebas dari buta aksara sudah mencapai 98%. Tepatnya 98,6% atau 98,4%. Kami optimis 2016, Kota Yogyakarta bebas dari buta aksara,” kata Wulan, sapaan akrabnya kepada Tribun Jogja, Rabu (9/9/2015).

Dia menambahkan, pihaknya mengintensifkan Pendidikan Keaksaraan Dasar (PKD) pada tahun ini. Seperti diketahui, PKD menekankan pada pembelajaran terkait Baca, Tulis dan Hitung (Calistung).

Selain itu, Disdik Kota Yogyakarta kini sedang melakukan pendataan terkait jumlah tuna aksara.

Untuk PKD sendiri, Disdik Kota Yogyakarta kini sedang berupaya membebaskan 150 orang dari buta aksara.

Sementara di tahun 2016 dengan menggunakan data APBD, pihaknya berencana menuntaskan sekitar 200 orang untuk bebas dari buta aksara.

“Untuk pendataan. Data dari BPS di tahun 2011, tuna aksara di Kota Yogyakarta tinggal 800-an orang dengan usia 15 sampai 56 tahun. Makanya kami ingin melakukan pendataan ulang tuna aksara,” jelas Wulan.

tribunjogja.com

================================================================================

TNGM Usulkan Pembangunan Tandon Air Sistem Gravitasi

Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) akan mengusulkan pembangunan tandon air atau semacam bak penampungan air berkapasitas lebih dari 10.000 liter di tahun anggaran 2016.

Pembangunan tandon air dengan teknologi pengangkatan air sistem gravitasi ini ditujukan untuk upaya pemadaman kebakaran hutan, persemaian dan juga wisata.

“Bentuknya nanti seperti kolam atau bak penampungan air yang besar untuk beberapa fungsi. Bentuknya bukan embung,” ujar Kepala Balai TNGM Edi Sutiyarto, Rabu (9/9/2015) petang.

Dia menjelaskan, kolam itu rencananya dibangun di zona pemanfaatan Jurangjero, Kecamatan Srumbung.

Adapun pemanfaatan kolam itu nantinya cukup diperlukan jika terjadi kebakaran hutan, airnya bisa difungsikan untuk memadamkan api.

Selain itu juga untuk kegiatan persemaian masyarakat sekitar.

“Bahkan jika sudah terbangun, nantinya bisa juga dimanfaatkan untuk menopang kegiatan wisata. Mengingat, akses menuju lokasi sudah ada dan tinggal ditata kembali,” jelasnya.

Kepala Seksi Wilayah I TNGM, Nurpana Sulaksono menjelaskan, pasokan air nanti bisa diambil dari Kali Blongkeng.

Karena, sumber air disana cukup besar dan bisa dimanfaatkan untuk mengisi bak penampungan tersebut.

“Nantinya pengangkatan air ini akan menggunakan sistem gravitasi. Untuk konstruksi kemungkinan menggunakan beton,” jelasnya.

Adapun, untuk besaran anggaran nanti disesuaikan dengan perencanaan pembangunan seperti instalasi, MCK, dan lain sebagainya.

Dia menyebut, anggaran yang diperlukan berkisar ratusan juta. Namun, pihaknya saat ini masih mengusulkan perencanaan pembangunan tandon tersebut.

tribunnews.com

================================================================================

Menteri Agama Ajak Masyarakat Salat Minta Hujan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat untuk melakukan salat meminta hujan (istisqa) di tengah rendahnya curah hujan di banyak daerah di Indonesia.

“Saya mengimbau umat Islam untuk mengadakan salat Istisqa untuk meminta turun hujan,” kata Lukman lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu (9/9/2015), seperti dikutip Antara.

Menag mengharapkan para ulama, pimpinan ormas Islam dan imam masjid agar berinisiatif mengajak masyarakat, khususnya umat Islam mengadakan salat Istisqa secara berjemaah.

Istisqa sendiri merupakan salat sunnah dua rakaat yang dianjurkan untuk memohon turun hujan. Salat Istisqa dilakukan dengan dua rakaat yang dilanjutkan dengan khutbah. Dalam khutbahnya, khatib akan menjelaskan tentang urgensi salat Istisqa dan kebutuhan manusia akan rahmat Allah dalam semua hal.

Kemudian, khatib meminta hujan kepada Allah dengan doa yang khusyuk. Selain umat Islam, Menag juga mengimbau umat beragama lainnya turut berdoa agar hujan segera turun dan membawa berkah bagi umat manusia.

“Saya juga mengajak seluruh umat beragama lainnya turut berdoa agar hujan segera turun dan membawa berkah”, katanya.

Musim kemarau melanda Tanah Air dan sudah memasuki bulan keenam, terhitung sejak Maret lalu yang ditandai menurunnya intensitas curah hujan. Hujan yang tak kunjung turun menyebabkan sumur penduduk mengering dan mulai mengancam lahan pertanian di beberapa wilayah di Indonesia.

Suhu panas akibat kekeringan panjang juga berdampak pada terbakarnya sebagian lahan hutan dan menyebabkan kabut asap yang mengganggu aktivitas penduduk hingga menyebabkan penyakit pernapasan.

metrotvnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − six =