Fast Break 13 Oktober 2015 jam 14.00
FastBreak , October 13, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

fb siang

Kemenhan RI Luncurkan Program Bela Negara Bagi Warga Negara Indonesia

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) akan meluncurkan kebijakan dan progam wajib bela Negara bagi seluruh warga Negara Republik Indonesia, yang berusia 50 (lima puluh) tahun ke bawah. Program wajib militer (bela Negara) tersebut telah dimanatkan oleh UUD 1945.

Dalam konfrensi pers di Kantor Kemenhan RI, jalan Medan Merdeka Barat Jakpus, pada Senin (12/10/15), Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu menjelaskan bahwa “Untuk menumbuhkembangkan cinta tanah air, rela berkorban, berupa latihan fisik dan psikis. Batasan usia 50 (tahun – red.) ke bawah. Ini never ending process, sejak PAUD hingga Perguruan Tinggi”.

Lebih lanjut mantan KSAD tersebut menyatakan bahwa bela Negara merupakan bagian dari kewajiban setiap warga Negara Indonesia yang telah dimanatkan oleh UUD 1945.

“Ini hak dan kewajiban. UUD Pasal 27, Hak dituntut, Kewajiban dilaksanakan juga. Demo boleh, tapi Negara minta warganya bela Negara. Kita lahir dan besar disini. Hidup bersama, besar bersama”, tegas Ryamizard.

Sebagaimana diketahui, bahwa program bela Negara dalam bentuk wajib militer pernah diterapkan di era tahun 1990 an. Salah satu program yang diluncurkan oleh Pemerintah pada Tahun 1992, adalah alumni STPDN/IPDN angkatan pertama menjalani wajib militer (Wamil) selama dua tahun.

Para alumni STPDN/IPDN tersebut, setelah menjalani pendidikan di kampusnya, dilanjutkan dengan pendidikan pada Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Bandung. Dengan menyandang pangkat Letnan Dua para perwira muda dari STPDN/IPDN itu ditugaskan pada jajaran territorial ABRI (TNI – Red.) selama dua tahun masa ikatan dinas.

Usai berdinas di teritorial TNI selama dua tahun, para Perwira Muda alumni STPDN/IPDN ditarik kembali ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menajalankan tugasnya kembali sebagai Pamong Praja Muda. Program Wamil tersebut dihentikan pada tahun 1993 karena adanya kebijakan baru terkait wajib militer.

Terkait, program bela Negara yang akan diluncurkan Kemenhan RI tersebut, belum dijelaskan secara spesifik apakah modelnya sama dengan program Wajib Militer STPDN/IPDN tahun 1992 atau berbeda. Menhan RI Ryamizard hanya menjelaskan bahwa program bela Negara bukan karena ada ancaman Negara lain, tetapi berdasarkan prinsip rakyat semsta.

beritaempat.com

===============================

Kraton Jogja Gelar Topo Bisu Mubeng Benteng Rabu Malam

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menetapkan satu Suro jatuh pada Kamis (15/10/2015). Dengan demikian tradisi lampah budaya topo bisu Mubeng Benteng akan digelar pada Rabu (14/10/2015) malam.

“Lampah budaya Mubeng Benteng, Rebo malem Kemis Pahing 14 Oktober, 1 Sura Jimawal 1949, tahun jawa,” kata Wakil Pengageng Tepas Tandha Yekti, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudahadiningrat di Kraton, Senin (12/10/2015).

Yudahadingrat mengatakan tradisi tahunan itu akan diikuti oleh abdi dalem punakawan, abdi dalem kaprajan, prajurit Kraton, serta masyarakat umum. Seperti biasanya ritual tapa bisu ini juga dibanjiri oleh masyarakat dari luar DIY.

Menurutnya, ritual topo bisu Mubeng Benteng yang sudah berlangsung sejak dahulu itu dimaknai sebagai wujud doa agar Kraton selalu mendapat berkah dan dilindungi dari marabahaya, serta doa untuk kesejahteraan masyarakat DIY.

Terkait ada sebagian masyarakat yang akan Mubeng Benteng pada Selasa malam, Yudahadingrat tidak mempersoalkannya, karena mungkin mendasarkan pada hitungan kalender Masehi. Yang jelas, ia menegaskan Kraton tetap berpegangan pada Kalender Sultan Agungan sejak zaman mataram sampai sekarang.

Kalender Sultan Agungan sudah ditetapkan sejak 1936 sampai 2056 yang akan datang. Semua upacara adat di Kraton menggunakan patokan itu. Dengan demikian Kraton akan memfasilitasi tradisi Mubeng Benteng yang hari Kamis. “Diluar itu Kraton tidak memfasilitasi,” katanya.

Panitia Acara Lampah Budaya Mubeng Benteng Kraton, Kanjeng Raden Tumenggung Gondohadiningrat menjelaskan tradisi Mubeng Benteng tahun ini akan dimulai puukul 21.30 WIB di Kagungan Dalem Pelataran Keben. Hal ini berbeda dari tahun sebelumnya, yakni pukul 20.00 WIB.

Menurut Gondohadiningrat cara dimulai lebih malam agar masyarakat tidak terlalu lama menunggu momen Mubeng Benteng pukul 00.00 WIB. Sebelum peserta Mubeng Benteng dilepas oleh sejumlah pengageng Kraton, terlebih dahulu diawali kenduri, macopat, dan doa bersama di halaman Keben.

Selanjutnya pengarahan dari panitia acara dan Dinas Kebudayaan DIY. “Lampah budaya Mubeng Benteng didahului barisan Bergodo Kraton untuk menjaga agar barisan peserta mubeng tetap rapi dan terjaga,” papar Gondohadiningrat.

Ritual yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya nasional oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini juga akan dikawal oleh sekitar 200 personel kepolisian, TNI, dan tenaga pengamanan paksikaton. Selain itu dua unit ambulance dari PMI Kota Jogja juga disiagakan.

Kepala Bidang Sejarah Purbakala dan Museum, Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati menambahkan tradisi Mubeng Benteng sudah resmi ditetapkan menjadi warisan budaya nasional. Dengan demikian, pihaknya akan ikut menjaga kelestarian tradisi tersebut melalui fasilitas dan anggarannya. Sebab, jika tradisi itu hilang, penghargaan warisan budaya nasional bisa dievaluasi kembali.

Dalam pemberian fasilitas dan anggaran kegiatan, Dinas Kebudayaan akan mengakui tradisi Mubeng Benteng yang sesuai dengan ketetapan Kraton. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi Mubeng Benteng ini merupakan perjalanan mengelilingi Benteng Kraton. Abdi dalem Kraton dan masyarakat umum berjalan kaki mulai pukul 00.00 WIB pada malam 1 Suro dari Keben-Jalan Retowijayan-Jalan Kuaman-Jalan Agus Salim-Jalan Wahid Hasyim sampai Pojok Benteng Wetan.

Dari Pojok Benteng Kulon terus menuju Jalan MT Haryono sampai Pojok Benteng Wetan-Jalan Brigjen Katamso-Jalan Ibu Ruswo-Alun Alun Utara. Selama perjalanan tidak diperkenankan untuk berbicara. Lampu penerangan di rute yang dilalui pun dipadamkan, hanya ada beberapa penerang obor. Perjalanan ini lebih kurang sepanjang empat kilometer.

Salah satu abdi dalem Kraton, Kanjeng Raden Tumenggung Rinta Iswara mengatakan topo bisu mengelilingi benteng Kraton merupakan salah satu bentuk doa, berintrofeksi dalam kehidupan yang sudah dilalui selama setahun kebelakang, dan siap menyambut tahun baru agar lebih baik lagi.

“Ritual ini ciri khas masyarakat Jawa yang senang bertapa, laku prihatin dengan cara puasa, dan kesunyian,” kata abdi dalem yang juga salah satu anggota penghitung kalender jawa ini.

harianjogja.com

==============================

Rumah Artefak Papua Diresmikan di Jerman

Seni budaya Indonesia bukan hanya “menjajah” Jerman selama pelaksanaan Frankfurt Book Fair, 13 hingga 18 Oktober esok. Peninggalan Indonesia juga akan menjadi destinasi wisata sekaligus pengetahuan baru bagi publik Jerman selamanya, terutama seni budaya dari Papua.

Jerman kini memiliki Museum Papua, yang dibuka secara resmi pada Minggu (11/10) di Gelnhausen-Meerholz, Frankfurt. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Anies Baswedan yang secara resmi membuka museum itu.

Berdasarkan keterangan di akun Facebook resmi Komite Nasional Frankfurt Book Fair 2015, seluruh barang dalam museum itu merupakan koleksi pribadi Dr. Werner Weiglein dari sejumlah ekspedisinya ke Papua dan Papua Nugini selama 30 tahun. Ia menemukan banyak benda menarik seperti topeng tradisional.

Beberapa totem, patung kayu bertingkat, dan perisai serta tombak yang biasa digunakan suku untuk mempertahankan diri pun terlihat dipajang di museum itu. Anies juga berkeliling melihat hiasan kepala yang biasa digunakan oleh kepala suku, bahkan tulang belulang.

Museum itu diharapkan “memperkaya imajinasi tentang Indonesia yang menjadi Tamu Kehormatan di pameran buku tertua di dunia yang mengusung tema ‘17.000 Islands of Imagination,'” seperti yang tertulis di akun Facebook Pulau Imaji.

Peresmian museum itu termasuk rangkaian acara seni budaya Indonesia yang membombardir Jerman tahun ini. Beberapa bulan lalu, penulis-penulis Indonesia hadir dalam acara bincang-bincang di Leipzig. Agustus, dangdut sebagai musik Indonesia “menggoyang” Sungai Main.

Mulai kemarin, film-film dalam negeri juga diputar di ajang Archipelago in Motion, Deutsches Filmmuseum. Salah satunya film Tjoet Nja’ Dhien yang dibintangi Slamet Rahardjo. Slamet pun hadir dalam parade film Indonesia yang digelar 6 sampai 30 Oktober itu.

Selain Tjoet Nja’ Dhien, film lain yang juga akan diputar adalah Sang Pencerah, Tabula Rasa, The Raid, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, dan beberapa film modern lainnya.

cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + fourteen =