Fast Break 15 September 2015 jam 10.00
FastBreak , September 15, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Penjual Tiket Palsu Bon Jovi Ditangkap

tiket

Pelaku penjualan tiket palsu konser grup musik asal Amerika Serikat Bon Jovi ditangkap polisi. Saat ini pelaku ditahan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.

“Ditreskrimum Polsa Metro Jaya tahan pelaku penjualan tiket palsu konser Bon Jovi,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti dalam keterangannya, Jakarta, Senin (14/9/2015).

Pelaku penjualan tiket palsu tersebut berinisial YG. Ia menipu hingga ratusan tiket para penggemar Bon Jovi.

“Yang bersangkutan menjual 290 tiket palsu,” kata Krishna. YG, lanjut Krishna, melakukan penipuan via telepon.

Ia menawarkan sejumlah tiket dengan berbagai kategori para penggemar Bon Jovi. Saat ini YG sedang diperiksa oleh penyidik Ditreskrimun Polda Metro Jaya.

Pemeriksaan dilakukan untuk mendapati informasi lebih lanjut mengenai modus penipuan tersebut.

Bon Jovi menggelar konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (11/9/2015). Konser tersebut dihadiri hingga 40.000 orang.

kompas.com

================================================================================

Gugatan Semiliar untuk PKL Jalan Terus Meski Keraton Minta Dicabut

Meski pihak Keraton Yogyakarta meminta pencabutan gugatan, Eka Aryawan tetap melanjutkan gugatan Rp1 miliar kepada lima pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Brigjen Katamso.

Sidang perdana digelar di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Senin (14/4/2015).

Sidang yang bernomor perkara 86/Pdt.G/2015 itu hanya berlangsung sekitar lima menit.

Majlis hakim yang diketuai Prio Utamo langsung menunjuk hakim Sumedi sebagai mediator agar perkara itu dapat lebih dulu diselesaikan di luar pengadilan.

“Hakim Sumedi akan bertindak sebagai hakim mediator. Kami berikan waktu sampai 40 hari kedepan kepada para pihak terlebih dulu untuk melakukan mediasi,” kata Prio.

Namun upaya media agaknya tidak berjalan mulus.

Usai proses mediasi yang berlangsung tertutup selama sekitar 1,5 jam itu, hakim mediator, Sumedi menyatakan hasil pertemuan itu deadlock karena tidak tercapai kesepakatan antara kedua pihak.

“Mereka tidak saling nyambung, proses mediasi untuk hari ini deadlock. Tapi tidak tertutup peluang, mediasi terjadi dihadapan majelis hakim,” ungkapnya.

Dari hasil mediasi, para tergugat yakni Budiono (tukang kunci) adalah Sutinah (penjual nasi), Suwarni (penjual nasi), Agung (penjual stiker) dan Sugiyadi (penjual bakmi) meminta tetap diizinkan berdagang di lokasi yang sama.

Permohonan itu langsung ditolak oleh penggugat, Eka Aryawan yang bersikukuh meminta pedagang meninggalkan lokasi tempat mereka sekarang berjualan dan membayar ganti rugi Rp1,1 milar yang diklaim diakibat keberadaan PKL.

Kuasa hukum penggugat, Oncan Poerba mengakui hasil mediasi memang buntu.

Bahkan pihaknya bersiap melanjutkan persidangan yang dikatakannya pada Senin (21/9/2015) pekan depan untuk langsung pada pemeriksaan pokok perkara.

“Proses inipun sebenarnya pun sudah kami lalui dan agaknya akan sama saja. Jadi kami siap memberikan bukti dan menguraikan duduk perkara yang sebenar-benarnya,” kata Oncan.

Dalam gugatannya, Eka Aryawan mendalilkan para tergugat telah menguasai secara tidak sah dan tanpa izin atas tanah seluas 28 m2.

Eka berpedoman Surat Perjanjian Pinjam Pakai Tanah Milik Sri Sultan Hamengku Buwono Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat No. 203/HT/KPT/2011 tertanggal 28 November 2011.

Dan telah terbit pula keputusan kepala Dinas Perizinan Kota Yogyakarta No. 014/GM/2013/ 1839/04 tentang Pemberian Izin Pembuatan jalan Masuk (In Gang) atas nama Eka Aryawan tertanggal 15 Maret 2013.

Eka Aryawan meminta para tergugat secara tanggung renteng membayar ganti rugi tas kerugian materiil sebesar Rp30 juta setiap tahun yang diperhitungkan sejak tanggal 28 November 2011 dan kerugian immateriil Rp1 miliar.

Sementara kuasa hukum tergugat, Rizky Fatahillah berharap Eka Aryawan akan mencabut gugatannya.

Versi pihaknya, sejak dua tahun lalu para pedagang sudah tidak menempati lahan kekancingan yang dipersoalkan oleh pihak penggugat.

“Kami berpikir masalah ini sebenarnya sudah selesai sejak 2013. Tetapi karena penggugat yang mendalilkan, maka mereka yang harus membuktikan,” tandasnya.

Usai mendengar pendapat kedua pihak, mediator kemudian meminta panitera untuk menyerahkan berkas hasil mediasi kepada majelis hakim.

Selanjutnya, majelis yang akan menentukan jadwal sidang berikutnya.

tribunjogja.com

================================================================================

Fadli Zon Benarkan Pertemuan Donald Trump Difasilitasi Pengusaha

Wakil Ketua DPR Fadli Zon tak menampik pertemuannya dengan bakal calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump difasilitasi Ketua Umum Partai Perindo yang juga pengusaha asal Indonesia, Hary Tanoesoedibjo.

“Lalu soal fasilitator HT dalam arti arrange (mengatur jadwal), mengontak, ada benarnya. Hal yang biasa, jadi ikut membantu pertemuan dengan Donald Trump, tidak direncanakan, kebetulan jadwalnya cocok,” ucap Fadli Zon di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (14/9/2015).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini menyatakan, tidak ada larangan bagi anggota DPR untuk bertemu dengan siapa pun. Apalagi ini membahas ketertarikan Donald Trump untuk berinvestasi di Indonesia.

“Donald Trump adalah pengusaha AS yang sudah kita kenal dan cukup berhasil. Kita lihat dia orang yang mau investasi di Indonesia. Seperti di Bali, Bogor, perbatasan Sukabumi,” ujar Fadli.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya sebelumnya mengatakan, pertemuan rombongan pimpinan DPR dengan bakal capres AS Donald Trump diinisiasi oleh bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo.

“Yang memfasilitasi, ya Pak Donald Trump itu kan mempunyai mitra. Mitranya di sini adalah Pak Hary Tanoe. Jadi, bagi saya, itu tidak perlu dipermasalahkan,” pungkas Tantowi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 9 September 2015.

liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 14 =