Fast Break 16 Oktober 2015 jam 14.00
FastBreak , October 16, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

A smartphone user shows the Facebook application on his phone in the central Bosnian town of Zenica, in this photo illustration, May 2, 2013. Facebook Inc said July 24, 2013 that revenue in the second quarter was $1.813 billion, compared to $1.184 billion in the year ago period.  REUTERS/Dado Ruvic /Files (BOSNIA AND HERZEGOVINA - Tags: SOCIETY SCIENCE TECHNOLOGY BUSINESS)

A smartphone user shows the Facebook application on his phone in the central Bosnian town of Zenica, in this photo illustration, May 2, 2013. Facebook Inc said July 24, 2013 that revenue in the second quarter was $1.813 billion, compared to $1.184 billion in the year ago period. REUTERS/Dado Ruvic /Files (BOSNIA AND HERZEGOVINA – Tags: SOCIETY SCIENCE TECHNOLOGY BUSINESS)

Facebook Segera Luncurkan Aplikasi Berita Notify

Facebook dilaporkan segera meluncurkan Notify. Aplikasi berita real-time ini dilaporkan telah dikembangkan Facebook selama beberapa lama.

Aplikasi ini kabarnya memungkinkan pengguna berlangganan organisasi berita tertentu yang disebut “stations”. Serta memungkinkan menerima notifikasi saat situs menerbitkan berita terbaru.

Inisiatif ini  menjadi salah satu cara Facebook mengukuhkan perusahaannya sebagai platform untuk berbagai aspek bisnis pemberitaan online. Seperti format Instant Articles untuk mengemas ulang halaman situs dengan tampilan sederhana dan mempercepat proses pemuatan pada aplikasi Facebook.

Tidak banyak aplikasi smartphone terintegrasi dari perusahaan media yang banyak digunakan oleh pembacanya, sebanyak pengguna mengakses Facebook. Hal ini disebut memberikan Facebook alasan untuk menambahkan fitur pemberitahuan kepada pengguna setiap kali berita baru terbit.

Notify dikabarkan telah menggandeng situs berita ternama, seperti The New York Times dan BuzzFeed. Sebelumnya, aplikasi serupa Notify juga telah diluncurkan oleh Twitter, Moments. Tab mandiri ini terletak berdampingan dengan tab Notifications dan Messages.

metrotvnews.com

==============================

2016, Sistem Baru Penghitungan Upah Mulai Berlaku

Sistem pengupahan baru yang didasarkan pada Upah Minimum Provinsi (UMP) ditambah perhitungan inflasi dan pertumbuhan ekonomi sudah ada dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP).

Sistem tersebut rencananya akan segera diberlakukan pada tahun ini, namun baru akan mulai diterapkan pada tahun yang akan datang.

Demikian seperti disampaikan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dakhiri, usai pembacaan paket kebijakan ekonomi jilid IV, seperti dikutip dalam laman Setkab, Jumat (16/10/2015).

“Perhitungan upah minimum 2016, kita harapkan nantinya RPP dalam waktu sesegera mungkin sudah ditandatangani sesuai formula yang sudah disampaikan Pak Menko Perekonomian,” papar Hanif.

Adapun inti perhitungan formula pengupahan minimum ini jika ingin menghitung upah minimum 2016 maka sama dengan upah minimum provinsi, upah minimum provinsi yang berjalan dikali penjumlahan angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Dia mencontohkan, untuk DKI Jakarta yang sekarang memiliki upah minimum Rp2,7 juta. Berarti kenaikan upahnya adalah Rp2,7 juta ditambah inflasinya dan pertumbuhan ekonomi.

“Jika inflasinya 5% dan pertumbuhan ekonominya 5% berarti 10%. Tinggal Rp2,7 juta dikali 10%, maka upah 2016 berati Rp2,7 juta ditambah Rp270.000 itu jika ingin disimulasikan,” jelasnya.

Hanif menilai, bahwa konsep penghitungan upah itu memberi kepastian pada pekerja, bahwa upah akan naik setiap tahun. Kedua, memberikan kepastian bagi dunia usaha karena masalah pengupahan ini bisa diprediksi.

metrotvnews.com

==============================

Narkoba Jenis Baru, Tembakau Cap Kingkong Sudah Masuk DIY

Peredaran narkoba jenis baru, yaitu tembakau Cap Kingkong, telah memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Masuknya tembakau yang memiliki efek seperti ganja di kota pelajar ini terungkap ketika Dit Resnarkoba Polda DIY menggelar operasi narkoba selama 28 hari.

Dir Resnarkoba Polda DIY Kombes Andi Fairan mengatakan, dari operasi khusus Narkoba Progo 2015, polisi menemukan narkoba jenis baru berupa tembakau super Cap Kingkong ini.

“Kita berhasil menemukan dan mengungkap narkoba jenis baru berupa tembakau super Cap Kingkong,” kata Andi Fairan, Kamis (15/10/2015).

Andi menjelaskan, awalnya polisi menerima laporan masyarakat bahwa di sebuah rumah di kawasan Imogiri, Bantul, kerap digunakan untuk pesta ganja. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan mendatangi lokasi tersebut. Di sana, polisi menemukan beberapa anak muda yang diduga usai berpesta ganja. “Mereka kita tes urine, tapi hasilnya negatif ganja,” tuturnya.

Dari keterangan para remaja itu, lanjut Andi, polisi lantas mengembangkan untuk menemukan penjual barang memabukkan itu. Petugas akhirnya menemukan tersangka berinisial W dan menemukan empat linting yang diduga ganja.

“Barang bukti berupa daun kering mirip ganja itu kita kirimkan ke Lapkes Provinsi DIY. Hasilnya sama, negatif ganja,” tambah dia.

Meski negatif ganja, lanjut Andi, efek dari daun yang belakangan diketahui berupa tembakau super Cap Kingkong tersebut sama dengan ganja. Pemakainya bisa fly dan depresan. Namun, jenis ini belum masuk dalam daftar tabel narkoba golongan I sampai IV sehingga bisa dikategorikan sebagai narkoba jenis baru.

“Cara penggunaan dan efeknya sama dengan ganja. Tapi jenis ini belum masuk dalam daftar narkoba, jadi termasuk narkoba jenis baru,” ujarnya.

Menurut pengakuan W, tembakau super Cap Kingkong ini dipasarkan secara online, sama seperti Good Shit, narkoba jenis baru yang beberapa waktu lalu pernah ditemukan di Yogyakarta.

“10 linting tembakau Kingkong dijual Rp 200.000, jadi satu linting harganya Rp 20.000,” katanya.

Terkait temuan baru ini, kepolisian mengusulkan agar revisi tabel daftar jenis narkoba golongan I sampai IV. Sebab, banyak ditemukan narkoba jenis baru yang belum masuk tabel sehingga pemakai dan penjualnya tidak bisa diproses hukum.

Belum masuknya jenis narkoba baru ini, tambah Andi, dimanfaatkan para pengedar untuk mencari celah hukum. Dengan demikian, ketika tertangkap, mereka bisa lepas dari jeratan hukum. “Untuk pengguna dan penjualnya tidak dijadikan tersangka dan tidak ditahan. Hanya kita kenakan wajib lapor,” pungkasnya.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − three =