Fast Break 21 September 2015 jam 17.00
FastBreak , September 21, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Indonesia Terpilih sebagai Tuan Rumah Konferensi Pelestarian Sedunia 2017

ubud

Organisasi pelestarian dari berbagai negara dunia yang tergabung dalam The International National Trusts Organisation atau INTO memilih Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Pelestarian Sedunia pada 2017 mendatang. Ubud, Bali, ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraan konferensi karena dianggap cocok dengan tema yang akan diangkat yaitu Kekuatan Budaya untuk Mendukung Kelestarian Alam.

”Indonesia terpilih setelah mengajukan Ubud, Bali, sebagai tempat konferensi. Kami hampir kalah dengan Cape Town, Afrika Selatan,” kata Catrini P Kubontubuh, Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Rabu (16/9/2015) di Jakarta.

Bersama 10 delegasi lainnya dari BPPI, Catrini baru saja menghadiri konferensi organisasi-organisasi pelestarian sedunia 2015 yang diadakan di kota Cambridge, Inggris, pada 7-11 September lalu.

Sebanyak 250 peserta dari berbagai negara hadir di konferensi tersebut. Cambridge mempresentasikan bagaimana pemerintah dan organisasi pelestarian bersama-sama melestarikan kota yang memiliki universitas tertua di dunia itu. Sebagai kota berpenduduk lebih dari 120.000, Cambrigde merupakan kota yang lengkap, memadukan kekayaan sejarah, pendidikan, kehidupan modern, dan budaya.

”Cambridge merupakan contoh bagaimana negara maju mengelola kelestarian alam, budaya, dan sejarahnya. Untuk konferensi di Bali nanti, Indonesia terpilih sebagai contoh bagaimana negara berkembang melestarikan kekayaan budaya dan alamnya,” kata Catrini. Wakil dari Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali, ikut ke Cambridge sebagai salah satu Kota Pusaka di Indonesia.

Seperti diungkap melalui siaran pers BPPI, Dame Fiona Reynolds, Presiden INTO, mengatakan, ingin belajar banyak tentang bagaimana tradisi lokal mendukung kelestarian lingkungan, hal ini terkait dengan persoalan perubahan iklim global (climate change).

nationalgeographic.co.id

—————————————————————————————————————————————–

Keren, Geopark Gunungsewu Gunungkidul Masuk Geopark Level Dunia

Kawasan Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masuk dalam Global Geopark Network (jaringan taman geologi global) yang diselenggarakan Asia Pacific Geoparks Network pada 15–20 September di Jepang.

“Alhamdulilah, akhirnya Gunungsewu masuk dalam Global Geopark Network (GGN) pada sidang biro GGN/UNESCO, 19 September di Sanin, Kaigan, Jepang, dalam sidang Biro GGN/UNESCO,” kata Sekda Kabupaten Gunungkidul Budi Martono saat dihubungi melalui pesan singkatnya di Gunung Kidul, Minggu.

Budi mengatakan Gunungsewu merupakan bentangan alam karst yang terdiri dari Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah), dan Pacitan( Jawa Timur). Sekarang nama Gunungsewu berubah Gunungsewu Global Geopark Indonesia.

“Saat ini saya di Jepang untuk menerima, ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan Gunungsewu pada khususnya,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul Saryanto mengatakan pihaknya sudah mendengar informasi tersebut. Penghargaan ini diterima setelah sebelumnya ditunda selama dua tahun.

Penundaan ini karena ada sembilan catatan diantaranya penambahan papan penujuk, sosialisasi kepada sekolah, dan penandatanganan dokumen tiga kabupaten dan tiga provinsi.

Untuk persiapan, 28 september akan ada pertemuan dengan tiga kabupaten untuk penajaman terkait geopark.

“Kami akan bertemu untuk penajaman mengenai geopark ke depan,” katanya.

Ke depan, dia optimistis kunjungan pariwisata di Gunungkidul akan meningkat. Pemkab akan dipromosikan tingkat dunia.

tribunjogja.com

—————————————————————————————————————————————–

2016, Semua Anak Di DIY Harus Memiliki KIA

Pemda DIY akan menerbitkan Kartu Identitas Anak (KIA) mulai 2016 mendatang. Kartu identitas tersebut wajib dimiliki semua anak dibawah umur 17 tahun.

Kepala Bidang Kependudukan, Biro Tata Pemerintahan, Sekretariat Daerah, Pemda DIY, Sudewo mengatakan selama ini warga DIY yang belum wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) kurang terfasilitasi dalam layanan publik.

“Dengan KIA yang sifatnya sama dengan KTP nanti bisa digunakan dalam berbagai hal, mulai insentif anak, fasilitas edukasi, sampai membuat tabungan,” katanya, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, kartu serupa sebenarnya sudah ada di Kota Jogja dan Kabupaten Bantul. Namun, KIA itu belum mencangkup semua fasilitas yang dibutuhkan anak.”Kedepan kartu identitas anak ini bisa digunakan sebagai acuan perencanaan pembangunan daerah,” jelas Sudewo.

Tentang KIA ini sudah masuk dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Administrasi Kependudukan dan KIA. Raperda tersebut sudah selesai dibahas dan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, beberapa waktu lalu. Namun, raperda itu masih dalam evaluasi Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri).

Data Kependudukan, Biro Tapem, jumlah anak di Kulonprogo ada 88.215 jiwa, Bantul 202.070 jiwa, Gunungkidul 150.887 jiwa, Sleman 234.629 jiwa, sedangkan di Kota Jogja ada 88.263 jiwa. Data tersebut baru usia 0-14 tahun. Belum termasuk usia 14-17.

Ketua Komisi A DPRD DIY, yang membidangi administrasi kependudukan, Eko Suwanto mengatakan sejauh ini di DIY memang pelayanan publik belum menjangkau semua penduduk. “Anak-anak berhak mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan, yang di dalamnya harus diberi insentif oleh pemerintah,” katanya.

Menurutnya, Raperda Administasi Kependudukan dan KIA itu merupakan inisiatif dewan. Ia berharap KIA nantinya bisa menjamin akses kesehatan, pendidikan, sampai pada kebutuhan perkembangan anak, seperti akses taman bermain di Taman Pintar dan beberapa lokasi bermain lainnya.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini berharap KIA menjadi rekaman identitas seperti KTP Elektronik atau E-KTP.

harianjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 12 =