Fast Break 29 September 2015 jam 10.00
FastBreak , September 29, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Pasca Kebakaran, Gunung Gede dan Pangrango Masih Ditutup untuk Pendakian

pagi

Pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango masih ditutup pasca kebakaran di Lembah Suryakencana. Belum ada kepastian pembukaan pendakian gunung di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat.

“Belum ada pembukaan (pendakian gunung). Nunggu hujan minimal 2 kali seminggu baru aman,” kata Kasi Wilayah 1 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ardi Andono dalam pesan Whatsapp kepada KompasTravel, Senin (28/9/2015).

Untuk perkiraan lebih lanjut waktu pembukaan pendakian ke kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Ardi belum dapat memberikan kepastian. “Gak tahu (kapan pembukaan pendakian ke kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango),” ungkapnya.

Dikutip dari siaran pers yang diterima KompasTravel, Senin (28/9/2015), Alun-Alun Suryakencana yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mengalami kebakaran rumput yang diperkirakan seluas 5 hektar. Kejadian kebakaran di Lembah Suryakencana diklaim terjadi pada hari Minggu (27/9/2015).

“Kebakaran ini diketahui berdasarkan patroli rutin petugas TNGGP pada hari Minggu tanggal 27 September 2015 pada pukul 10.00 WIB,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Herry Subagiadi dalam siaran pers.
Dikutip dari laman resmi Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, berdasarkan Surat Edaran Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango no SE.1354/IV-11/BT-4/2015 tentang Perpanjangan Penutupan Pendakian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, penutupan kegiatan pendakian Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango akan sampai waktu yang belum ditentukan tergantung pada situasi dan kondisi di lapangan.

Penutupan kawasan taman nasional dilakukan dalam rangka pemulihan ekosistem, perbaikan sarana prasarana pendakian, perbaikan manajemen pelayanan dan sistem booking online, dan pengkajian ulang daya dukung kawasan (kuota) kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu taman nasional yang berlokasi dekat dengan Jakarta. Di taman nasional ini, pengunjung dapat mendaki dua gunung yaitu Gunung Gede dan Gunung Pangrango.

kompas.com

—————————————————————————————————————————————–

Jika Tak Ada Izin, Polisi Akan Tutup Tambang Pasir di Lumajang

Kepolisian akan menutup aktivitas penambahan di Pantai Watu Kecak, Selok Awar-Awar, Pasirian, Lumajang. Tidak adanya izin menjadi alasan utama untuk menutup penambangan itu.
Namun belum diketahui waktu pasti rencana penutupan tambang pasir itu. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengungkapkan pihaknya akan mengkaji dulu sebelum menutup aktivitas penambangan di Pantai Watu Kecak.

“Kalau tidak ada izin, seharusnya tidak boleh ada aktivitas. Kami pasti akan menutupnya,” kata Argo, Senin (28/9/2015).

Aktivitas penambangan ilegal itu mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Bahkan aksi penolakan penambangan liar itu menimbulkan korban jiwa.

Salim alias Kancil (52) disiksa sampai tewas oleh puluhan orang. Aktivis lainnya, Tosan (51) mengalami luka berat akibat pegeroyokan itu. Saat ini Tosan masih menjalani perawatan di RS Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Setelah pengeroyokan pada Sabtu (26/9/2015) lalu, polisi telah menetapkan 17 orang menjadi tersangka. Menurut Argo, jumlah tersangka sekarang bertambah menjadi 18 orang. Penyidik baru saja menetapkan satu orang lagi sebagai tersangka.

Argo menambahkan jumlah tersangka masih bisa bertambah. Pihaknya masih meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk memastikan jumlah tersangka. Sampai saat ini pengusutan kasus ini masih ditangani Satreskrim Polres Lumajang.

Argo menjelaskan sejauh ini belum ada rencana menarik kasus ini ke Polda Jatim. Meski demikian, Polda tetap akan memantau perkembangan penanganan kasus ini. “Kasus ini mendapat perhatian khusus dari Polda,” tambahnya.

Sementara itu, puluhan mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pejuang Kemanusiaan (AMPK) menggelar demonstrasi di depan Mapolda Jatim. Demonstrasi ini diwarnai aksi teatrikal yang menggambarkan aksi pengeroyokan terhadap Kancil dan Tosan.

“Tegakkan HAM. Hentikan penambangan pasir yang merugikan rakyat. Usut tuntas kasus pembunuhan Salim,” ujar korlap aksi, Purwanto.

kompas.com

—————————————————————————————————————————————–

Indonesia Diprediksi Kekeringan hingga Akhir 2015

Ketua Tim Variabilitas Iklim Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Erma Yulihastin, mengatakan, berdasarkan prediksi 17 model global, El Nino kuat dengan indeks lebih besar dari +2 akan terus berlangsung hingga Februari 2016.

“Puncak El Nino kuat ini akan terjadi pada bulan November dan Desember 2015 dengan indeks mencapai 2,5, sedangkan IOD (fenomena Indian Ocean Dipole) positif diprediksi hingga November 2015,” kata Yulihastin, di Bandung, Senin (28/9/2015).

Bahkan berdasarkan konsensus prediksi probabilitas El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang diluncurkan Climate Prediction Center/International Research Institute (CPC/IRI) for Climate and Society, El Nino memiliki peluang lebih dari 95 persen terjadi hingga Februari 2016.

Namun, bergabungnya dua El Nino kuat dan IOD positif itu diprediksi akan menyebabkan Indonesia kekeringan hingga November bahkan hingga akhir 2015.

Meski demikian, dia mengatakan, berdasarkan prediksi model CCAM yang dioperasikan Lapan, pola angin monsun baratan yang menunjukkan musim hujan mulai terbentuk secara stabil pada Desember 2015.

Sementara itu, peneliti PSTA Lapan, Eddy Hermawan, menyatakan, dampak kekeringan parah di Indonesia merupakan akibat El Nino kuat (indkes +2,03) dan IOD positif (indeks +1,13) yang terjadi secara bersamaan.

“El Nino kuat menunjukkan terjadi anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang lebih hangat dari biasanya. Ini turut memengaruhi kondisi atmosfer di atasnya. Hal ini mengakibatkan pelemahan sirkulasi angin Walker yang dalam kondisi normal seharusnya bertiup dari Samudra Pasifik menuju Indonesia,” kata dia.

Dengan El Nino kuat, sirkulasi Walker pun melemah karena “kolam hangat” yang seharusnya terbentuk di lautan Indonesia berpindah ke Pasifik. Akibatnya, pembentukan awan dan hujan yang seharusnya terjadi di Indonesia pun berpindah ke Samudra Pasifik.

Di sisi lain, IOD positif menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Hindia di dekat Afrika lebih hangat dibandingkan dengan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Pulau Sumatera. Akibatnya, tekanan rendah terbentuk di dekat Afrika sehingga pusat konveksi pun berpindah dari Pulau Sumatera menuju Afrika.

“Baik El Nino maupun IOD sama-sama berdampak pada kekeringan di Indonesia karena kedua fenomena ini telah menggeser pusat-pusat konveksi di Indonesia menuju Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dekat Afrika,” katanya.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + twenty =