Fast Break 30 September 2015 jam 10.00
FastBreak , September 30, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Obama Siapkan 30 Ribu Prajurit untuk Misi Perdamaian PBB

jJ94pegpRW

Lebih dari 50 negara berkontribusi untuk misi perdamaian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menyumbangkan kekuatan militer masing-masing.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengumumkan kontribusinya sebanyak 30 ribu prajurit. Menurut Obama, misi perdamaian PBB menghadapi tantangan baru dalam konflik yang lebih sulit dan mematikan.

“Kita semua tahu operasi perdamaian bukan solusi terhadap semua masalah,” ujar Obama di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, AS, seperti dikutip AFP, Senin (28/9/2015).

“Namun mereka (pasukan penjaga perdamaian) masih menjadi alat paling penting dalam mengatasi konflik bersenjata,” tambah dia.

Sumbangan terbaru AS juga meliputi helikopter, unit teknis, rumah sakit darurat dan pakar bom. Setelah Obama mengumumkan sumbangan 30 ribu prajurit, negara-negara lain juga mengikuti, dan jumlah totalnya mencapai 40 ribu.

Dari berbagai negara, Indonesia turut berpartisipasi lewat program pelatihan dan pengiriman 2700 personel militer. Sementara India akan mengirimkan 850 tentara tambahan. Negara-negara kecil juga turut menyumbang, seperti Armenia dan Fiji.

Saat ini, lebih dari 125 ribu prajurit dan polisi dari 124 negara tergabung dalam misi perdamaian PBB.

metrotvnews.com

—————————————————————————————————————————————–

Yogya Berpotensi jadi ‘Smart City’

Sebanyak 150 peserta yang terdiri dari walikota, kepala BAPPEDA, Dirjen Otonomi Daerah, dan pegawai pemerintah dari 23 kota di Indonesia menghadiri acara Simposium Kota Sekunder Pintar Indonesia 2015, atau lebih dikenal dengan CityNext Summit 2015.

Fokus utama dalam acara ini adalah pembahasan studi ‘Menuju Kota-Kota Sekunder Pintar: Pemetaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pelayanan Publik di 12 Kota di Indonesia”, yang merupakan hasil riset kerjasama antara Universitas Gadjah Mada, Lee Kwan Yew (LKW) School of Public Policy – National University of Singapore (NUS), serta Microsoft.

Peneliti, National University of Singapore dan Universitas Gadjah Mada Dedy Permadi mengatkan kota sekunder di Indonesia, yaitu kota-kota dengan jumlah penduduk di atas 200.000 jiwa dan bukan merupakan kota satelit ataupun ibu kota negara, memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi smart city. Jika dilakukan intervensi kebijakan yang tepat, kota-kota ini akan menjadi engine of growth dalam kurun waktu lima sampai lima belas tahun mendatang.

“Melalui studi yang kami (National University of Singapore dan Universitas Gadjah Mada) lakukan di 12 kota sekunder di Indonesia (Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Samarinda, Makassar, Denpasar, Ambon, serta Jayapura), kami menemukan bahwa ternyata pemerintah di kota-kota tersebut telah secara aktif mengimplementasikan berbagai inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik masing-masing kota, dengan tingkat dan cara yang berbeda-beda,” katanya.

Kendati demikian, kata Dedy kedua belas kota sekunder di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup signifikan terkait dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Masalah terberat adalah kurangnya kesadaran akan manfaat TIK, disusul oleh keterbatasan anggaran, dan juga keterbatasan kapasitas birokrat,” ungkap Dedy.

Public Sector Director, Microsoft Indonesia Kertapradana Subagus mengatakan dalam era mobile-first, cloud-first saat ini, Microsoft percaya bahwa teknologi hanyalah salah satu cara untuk mengembangkan kota menjadi smart city.

“Yang lebih penting adalah kolaborasi aktif antara orang-orang yang tinggal di dalamnya: pemerintah, swasta, dan masyarakat terkait bagaimana mereka akan mengimplementasikan teknologi tersebut secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.”

krjogja.com

—————————————————————————————————————————————–

Demi Basmi ISIS, AS Siap Gandeng Rusia dan Iran

Aksi brutal kelompok militan Islamic State (ISIS) telah menjadi masalah global. Amerika Serikat, sebagai negara yang membentuk koalisi global, mengaku siap menggandeng lebih banyak negara untuk bergabung.

“AS siap bekerja sama dengan negara manapun, termasuk Rusia dan Iran, untuk menyelesaikan konflik,” ujar Presiden AS Barack Obama dalam Sidang Umum PBB di New York, seperti dikutip AFP, Senin (28/9/2015).

Selama ini, hubungan diplomatik AS dengan Rusia dan Iran relatif buruk.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyambut baik niat AS. Namun, Putin berpendapat koalisi saat ini perlu diperluas lewat kerja sama dengan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Menurut Putin, pasukan Assad adalah entitas resmi pemerintahan Suriah yang dapat diandalkan dalam melawan ISIS di pertempuran darat.

Obama menolaknya, dan menyebut Assad justru membuat warganya menderita di tengah perang sipil yang tengah berkecamuk. Rezim Assad kerap menjatuhkan bom untuk melawan pemberontak, namun berakhir dengan kematian banyak warga sipil.

Kendati berbeda pendapat mengenai Assad, Putin dan Obama sepakat harus ada transisi politik untuk menyelesaikan konflik di Suriah.

metrotvnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =