Fast Break 7 September 2015 jam 14.00
FastBreak , September 8, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Ricky dan Yeye Terbaik di LIMA Swimming 2015

renang

Dua atlet renang nasional, Ricky Anggawidjaja dan Yessy Veneshia Yosaputra keluar sebagai  perenang terbaik dalam kejuaraan renang antarperguruan tinggi LIMA Swimming di Jogjakarta, Minggu (06/09/2015).

Ricky Anggawidjaja yang kini menjdai mahasiswa  Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) terpilih dengan raihan empat medali emas. Sementara Yessy atau Yeye mahasiswa Universitas Parahayangan Bandung meraih dua medali emas dan dua perak.

Selain best swimmer, LIMA juga memberi penghargaan  all academic player, yaitu atlet renang peserta yang memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) Untuk LIMA 2015 ini, pengahrgaan diberikan kepada perenang asal Universitas Atmajaya Yogyakarta, Freddy Suhendra denfan total IPK 4,00.

Tim renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyabet gelar juara umum pada LIMA Swimming 2015 yang dihelat di Kolam Renang Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu (6/9).

LIMA Swimming 2015 melombakan 22 nomor untuk putra dan putri. Untuk nomor perorangan, dipertandingkan gaya bebas, kupu-kupu, punggung dan dada jarak 50 meter dan 100 meter. Untuk nomor beregu, estafet gaya bebas dan 4 x 100 meter estafet gaya ganti serta 200 meter ganti perseorangan turut dilombakan. Dari  seluruh nomor yang dipertandingkan, tim renang UPI mampu menyabet 13 medali dengan rincian empat medali emas, lima perak dan empat perunggu.

Sementara peringkat kedua diraih oleh Universitas Brawijaya dengan raihan enam medali (empat medali emas dan dua medali perak, sedangkan Institut Teknologi Harapan Bandung berada di urutan ketiga dengan perolehan empat medali emas.

Empat medali emas yang diraih UPI berasal dari nomor 4 x 100 meter estafet ganti putra, 4 x 100 meter estafet bebas putri, 50 dan 100 meter gaya kupu-kupu putri (Muthia Rahmawati).

Sedangkan lima medali perak UPI berasal dari 4 x 100 meter estafet ganti putra, 4 x 100 meter estafet bebas putri, 50 meter gaya punggung putri (Muthia Rahmawati), 100 meter gaya dada putri (Sarrah Nadya), dan 100 meter gaya bebas putri (Raisa Ganeswara).

Sementara empat perolehan perunggu berasal dari 200 meter gaya ganti perseorangan putri (Muthia Rahmawati), 50 meter gaya punggung putri (Raisa Ganeswara), 50 meter gaya kupu-kupu putri (Raisa Ganeswara) dan 50 meter gaya kupu-kupu putra (Fajar Hafian Dani).

Manajer tim renang UPI, Muhamad Lutfi Rizkia, mengaku senang dan bersyukur dengan tampilnya UPI sebagai juara umum LIMA Swimming 2015. “Saya sangat bangga atas hasil yang telah dicapai oleh tim renang UPI, mengingat target kita adalah mempertahankan gelar juara umum ini. Semua ini berkat kerja keras para pemain. Alhamdulillah, target ini mampu kami realisasikan,” ujar Lutfi.

kompas.com

================================================================================

BNPB Siapkan Dana Rp 385 Miliar untuk Atasi Kebakaran Hutan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 385 Miliar yang akan digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh daerah di Indonesia.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dana tersebut sebagian besar akan digunakan untuk operasi darurat asap sebagaimana imbauan Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan langsung ke Sumatera Selatan pada Minggu (6/9).

“Biaya tersebut diantaranya akan digunakan untuk membuat hujan buatan, biaya sewa dan operasional pemboman air (water bombing) serta operasional posko di daerah,” kata Sutopo saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (7/9).

Sutopo kemudian mengatakan operasi darurat asap melibatkan empat strategi. Strategi pertama yakni melakukan pemadaman kebakaran hutan melalui udara, yaitu dengan pemboman air dan hujan buatan.

“Untuk ini, BNPB menyiapkan 3 pesawat Casa 212 untuk hujan buatan di Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat,” kata Sutopo.

Saat ini, enam Gubernur sudah menyatakan status siaga darurat, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, kata Sutopo, penanganan operasi darurat asap akan dilakukan di enam wilayah tersebut.

Selain pesawat Casa 212, pihak BNPB juga menyediakan 13 helikopter untuk melakukan pemboman air di enam wilayah tersebut.

Kemudian, untuk strategi kedua adalah pemerintah akan melakukan pemadaman di darat. Untuk itu, pemerintah membentuk tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri serta masyarakat.

“Di setiap provinsi lebih dari 1.500 personil dikerahkan memadamkan api,” kata Sutopo.

Strategi ketiga, pemerintah akan melakukan operasi penegakan hukum oleh Polri dan Penyidik Pegawai Negeri Ssipil (PPNS) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sejauh ini, katanya, Polri telah menindak 39 kasus kebakaran hutan di Sumatera. Sementara itu, PPNS telah menyegel lahan-lahan yang terbakar.

“Untuk strategi berikutnya, memberikan pelayanan kesehatan dan sosialisasi, “kata Sutopo.

Sutopo mengatakan Kapolda di enam wilayah siaga asap telah mengeluarkan maklumat pembakaran hutan dan lahan. Tak hanya itu, masyarakat juga sudah menerima ribuan masker.

Berdasarkan data dari BNPB, sejauh ini sudah terdapat 22.555 warga di Sumatera Selatan dan 1.002 warga terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

“Namun, kunci utama mengatasi karhutla adalah penegakan hukum. Sudah banyak UU, peraturan, juknis dan lainnya yang mengatur larangan karhutla namun faktanya tetap saja dibakar,” ujar Sutopo.

cnnindonesia.com

================================================================================

11 Tahun Kasus Munir, Jokowi Diminta Berani Ungkap Dalang Pembunuhan

Para pegiat hak asasi manusia meminta Presiden Joko Widodo menunjukkan keberanian dalam mengungkap keterlibatan kalangan elite di sekitarnya dalam kasus pembunuhan terhadap aktivis HAM, Munir Said Thalib. Jokowi diminta mengutamakan penegakan hukum dan HAM ketimbang soal balas budi.

“Buat kami, jangan letakkan kasus Munir dalam ruang tarik-menarik kepentingan politik seperti pada era yang lalu. Misalnya, kalau ini dibongkar, nanti yang kena si itu, jadi ada kalkulasi politik. Maka, ini harus dalam konteks penegakan hukum dan HAM,” ujar Direktur Imparsial Al Araf dalam konferensi pers di Sekretariat Kontras, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2015).

Menurut Al, 11 tahun kasus Munir yang selalu stagnan merupakan kewajiban negara yang harus dituntaskan dari sisi penegakan hukum dan HAM secara konsisten. Kasus tersebut tak cukup jika hanya dijawab dengan mengadili pelaku yang beroperasi di lapangan, tetapi juga mencari dan mengadili semua yang menjadi otak di balik pembunuhan Munir.

Hasil penelusuran Tim Pencari Fakta yang pernah dibentuk pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, misalnya, menjelaskan bahwa kasus pembunuhan Munir melibatkan lebih dari satu pelaku, bahkan melibatkan Badan Intelijen Negara. Pembunuhan itu disebut terjadi atas motif politik.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar mengatakan, salah satu orang yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus Munir adalah AM Hendropriyono, orang dekat Jokowi. Dalam suatu wawancara dengan jurnalis investigasi Allan Nairn, mantan Kepala BIN itu menyebutkan bahwa ia siap bertanggung jawab dalam kasus Munir.

“Jokowi jangan sampai tersandera pada orang-orang seperti Hendropriyono. Sudah terbukti, Munir dibunuh lewat agen intelijen pada masa Hendropriyono. Jangan sampai Jokowi merasa berutang budi,” kata Haris.

Munir dibunuh dengan racun yang dimasukkan ke dalam makanannya dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam dengan pesawat Garuda Indonesia GA 974 pada 7 September 2004. Dalam pengadilan kasus itu, mantan pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto, divonis penjara selama 14 tahun, dan telah bebas bersyarat seusai menjalani masa hukuman 8 tahun. Meski demikian, bagian inti kasus ini masih menjadi misteri karena auktor intelektualis di balik pembunuhan tersebut belum terkuak.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + nineteen =