FastBreak 24 April 2013 jam 10.00
FastBreak , April 24, 2013, admin

Selama hampir 9 tahun menjabat sebagai kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mendapatkan setidaknya tujuh gelar honoris causa. Gelar non-akademis itu diberikan atas peran Presiden SBY di berbagai bidang, mulai dari pertanian, ekonomi, hukum, hingga politik.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, honoris causa adalah gelar yang diberikan kepada seseorang oleh perguruan tinggi sebagai penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam bidang ilmu atau dalam bidang kemasyarakatan.

Pada 2005, Presiden menerima dua gelar honoris causa. Gelar pertama didapat dari Universitas Webster, Inggris, untuk bidang hukum. Sedangkan gelar kedua datang dari Universitas Thammasat, Thailand, untuk bidang politik.

Pada 21 September 2006, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, memberikan gelar honoris causa di bidang pembangunan pertanian berkelanjutan kepada Kepala Negara. Penghargaan ini diberikan atas komitmen dan peran Presiden terkait upaya pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan.

Selang dua bulan, tepatnya 27 November 2006, Presiden kembali mendapatkan gelar honoris causa. Kali ini dari Universitas Keio, Jepang. “Karena kontribusinya yang besar dalam membawa kestabilan politik dan ekonomi negaranya, serta menjadi figur pemimpin yang menonjol di kawasan Asia Timur dan mempunyai andil dalam mempererat hubungan Jepang dan Indonesia, maka Universitas Keio melalui Fakultas Manajemen Kebijakan memberi gelar kehormatan Doktor Honoris Causa bidang Pemerintahan dan Media kepada Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar siaran pers universitas tersebut.

Gelar honoris causa kelima diterima Presiden dari Universitas Tsinghua, Beijing, China, pada 23 Maret 2013. Gelar honoris causa bidang ekonomi diberikan atas keberhasilan Presiden dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang impresif. Politisi Demokrat ini juga dipandang berhasil mendorong kerja sama strategis antara China dan Indonesia, serta mengembangkan keamanan di kawasan ASEAN.

Selanjutnya, pada 19 Desember 2012, Universiti Utara Malaysia menganugerahi gelar honoris causa sebagai Pemimpin Perdamaian kepada Presiden. Gelar ini diberikan langsung oleh Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong di Istana Negara Malaysia, Kuala Lumpur.

Atas penghargaan dari Malaysia ini, Presiden menyatakan, “Saya juga merasa bangga dapat bergabung dengan sederetan tokoh penting seperti Margaret Thatcher, Tun Dr Mahatir Muhammad, dan Tun Abdullah Badawi yang telah mendapatkan penghargaan serupa.”

Pada 2013, giliran Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, yang memberikan gelar honoris causa. Kali ini, Kepala Negara memperoleh gelar honoris causa di bidang kepemimpinan dan pelayanan publik. Penghargaan ini diberikan di sela kunjungan Presiden ke Singapura, 22 April 2013.

____________________________

Pertama di Indonesia, Pengusaha Dipenjara karena Bayar Buruh di Bawah UMR. Peringatan serius bagi para pengusaha yang membayar upah buruh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Sebab, Mahkamah Agung (MA) menghukum pengusaha yang melakukan hal tersebut dengan hukuman penjara.

“Menghukum terdakwa Tjioe Christina Chandra dengan pidana 1 tahun penjara,” kata pejabat resmi MA, Rabu (24/4/2013).

Chandra merupakan pengusaha Surabaya yang memiliki 53 karyawan namun mengupah buruhnya tersebut di bawah UMR. Oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Chandra divonis bebas. Jaksa Penuntut Umum (JPU) pun mengajukan kasasi dan dikabulkan. “Dan menjatuhkan pidana denda Rp 100 juta,” lanjutnya.

Vonis ini diadili oleh ketua majelis hakim Zaharuddin Utama dengan anggota majelis Prof Dr Surya Jaya dan Prof Dr Gayus Lumbuun dalam perkara nomor 687 K/Pid/2012.

“Terdakwa terbukti melanggar Pasal 90 ayat 1 jo Pasal 185 ayat 1 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan,” pungkasnya.
__________________________

Sebelas orang mahasiswa Indonesia dari Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung dan Politeknik Negeri Bandung (Polban) tak sia-sia berlaga di ajang kompetisi robot Amerika. Lewat karya tangan mereka, berbagai jenis robot ciptaan yang dibawa dari Indonesia berhasil berlaga di dua ajang kompetisi robot kelas dunia di Amerika.

Pada ajang Fire Fighting Home Robot Contest, yang digelar pada 7-9 April 2013 di kampus Trinity College, Hartford – Connecticut ketiga tim dari tiga kampus di Indonesia ini masing-masing berhasil menyabet 2 emas, 1 perak dan 1 perunggu untuk UGM, 1 emas dan 1 perak untuk Unikom, dan 1 emas dan 1 perunggu untuk Polban.

Sedangkan pada ajang RoboGames Robolympics terbesar di dunia yang digelar di San Mateo, San Francisco 19-21 April 2013 lalu, tim mahasiswa dari UGM mengantongi 2 emas dan satu perak. Sedangkan Tim Unikom berhasil mengantongi 2 emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Dalam perlombaan ini, menurut peserta lomba Malik Khidir (21), mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknik dari UGM, sebagaimana diminta panitia, mereka membawa robot yang sudah jadi dari Indonesia. Robot bernilai puluhan juta rupiah ini kemudian dipresentasikan di depan para juri. Perlombaan yang menurut Eko Prabowo Putro (21) mahasiswa tugas akhir di Unikom memang cukup berat tetapi menyenangkan. Karena ketiga robot yang menjadi andalan utama berhasil menang.

Ketiga robot yang dipuji tim juri hasilnya adalah robot yang dapat membuka kulkas dan menjamu makanan pada orang cacat, robot yang sanggup menjadi petugas pemadam kebakaran, dan robot yang sanggup memanjat (elevator) dari bawah ke atas dalam dunia luar angkasa. Ketiga robot ini tampil prima ketika di uji, berhasil lulus tes kehandalan di depan para tim juri dalam hal kecepatan, keberhasilan melewati tantangan tanpa masalah, dan tidak ada “error” dalam menerima perintah.

[html5mp3small:15141]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 − two =