Kartini: Perjuangan Wanita Untuk Kesetaraan
Latar , April 20, 2017, Unisi Radio

Dikenal sebagai salah satu pahlawan tanah air yang berjasa atas semangat emansipasi wanitanya, kisah Kartini pun diangkat ke layar lebar.

Raden Ajeng Kartini (Dian Sastrowardoyo) terlahir sebagai putri dari bangsawan bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jepara. Ibu kandung Kartini, Ngasirah (Christine Hakim), bukanlah seseorang yang mempunyai gelar kebangsawanan, sehingga ayahnya pun harus menikah dengan Raden Ajeng Moeryam (Djenar Maesa Ayu) untuk mewarisi posisi Bupati dari kakek Kartini. Namun, sebagai anak kandung dari seorang Bupati, Kartini pun harus menjadi seorang Raden Ajeng. Kartini pun diharuskan hidup di rumah induk Raden Mas Sosroningrat, terpisah dari ibu kandungnya yang tetap melayani keluarga tersebut sebagai asisten rumah tangga.

Pada zaman itu, tradisi yang membedakan cara hidup kaum perempuan dan kaum pria masih sangat kental di kalangan masyarakat Jawa. Kartini pun harus mengikuti tradisi untuk hidup dalam pingitan sejak menstruasi pertama. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah, hanya menetap di rumah saja. Kakak perempuan tirinya, Raden Ajeng Sulastri (Adinia Wirasti), membantunya belajar tatanan-tatanan perempuan Jawa bangsawan. Namun, hal tersebut tidak cukup membuat Kartini merasa betah di pingitan. Ia bahkan menganggap semua aturan itu menyusahkan dan membosankan. Akhirnya, kakak laki-lakinya, Raden Mas P. Sosrokartono (Reza Rahadian) mewariskan buku-buku bacaan untuk Kartini selagi ia pergi menimba ilmu di Belanda.

Kartini pun mengisi kekosongan waktunya di pingitan dengan membaca buku-buku dari Raden Mas Kartono tersebut. Buku-buku tersebut membuka wawasannya dan menginspirasinya untuk bisa menaikkan hak dan derajat perempuan sehingga setara dengan pria. Kartini pun mulai menulari kedua adik perempuannya, Raden Ajeng Roekmini (Acha Septriasa) dan Raden Ajeng Kardinah (Ayushita Nugraha) untuk ikut membaca. Mereka pun akhirnya mendapatkan kesempatan untuk unjuk kemampuan mereka. Kartini dikenal dengan tulisan-tulisannya yang diterbitkan oleh redaksi majalah Belanda, Kardinah dikenal dengan desain pahatan kayu, dan Roekmini berkarya dengan membatik. Lewat karya-karya mereka, masyarakat di sekitar Jepara juga menjadi lebih sejahtera.

Namun semuanya mulai berubah sejak Kardinah dipinang oleh Wakil Bupati Pemalang. Roekmini dan Kartini benar-benar dikurung dalam pingitan dan terancam tidak bisa meneruskan karya mereka maupun memperluas pengetahuan mereka. Bangsawan-bangsawan Jawa lainnya juga malah menganggap apa yang dilakukan Kartini menjadi ancaman bagi kedudukan para bangsawan terhadap masyarakat di seluruh Jawa. Kartini pun akhirnya harus menguatkan diri untuk tetap memperjuangkan impiannya supaya kaum perempuan di Jawa bisa setara dengan kaum pria, tidak hanya menjalani hidup untuk menikah tanpa terjamin kebahagiaan maupun intelektualitasnya.

Film bertema sejarah ini tidak hanya menceritakan kehidupan R.A. Kartini, melainkan turut menyampaikan sejarah pada zaman penjajahan Belanda lewat perspektif lain. Selama ini, yang diketahui oleh orang Indonesia adalah bangsa Belanda menjajah Indonesia dengan kejam, bahkan mengeksploitasi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia selama 3,5 abad. Namun, dalam film ini kita bisa melihat bahwa bangsawan-bangsawan Belanda juga turut ambil bagian dalam kesuksesan R.A. Kartini dalam mencerdaskan bangsa. Penonton diberikan pemahaman lain tentang rekam jejak bangsa Belanda di Indonesia.

Penggambaran tiap karakter juga dilakukan dengan baik. Jika ada satu atau dua tokoh yang menimbulkan pertanyaan akan asal usulnya, film garapan Hanung Bramantyo ini tidak akan membiarkan kita merasa ‘digantung’. Dengan sangat rapi, permainan alur waktu diberikan sebagai sarana penyampaian jawaban dari pertanyaan akan beberapa tokoh di sana.

Beberapa hal yang menjadi perhatian justru terletak pada kostum para pemain. Meskipun diketahui bahwa pengambilan gambar memang sempat berlokasi di beberapa tempat di Jogja, tetapi tetap saja jika mengacu yang asli, Kartini hidup di Jepara yang terletak di Jawa Tengah dan memiliki tatanan busana yang berbeda dengan Jogja. Banyak adegan yang justru menampakkan tatanan busana campuran antara gaya Jogja dan Jawa Tengah atau bahkan tatanan busana yang membuat bertanya-tanya tentang referensi adatnya. Selain kostum, bahasa Jawa yang digunakan juga kurang konsisten. Mengingat Kartini hidup di keluarga bangsawan, beberapa kali ada bahasa yang luput kesan bangsawannya dan malah memakai bahasa Jawa yang lebih banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa zaman sekarang.

Walaupun dalam hal penggambaran detail budaya-budaya tadi kurang maksimal, tetapi pesan utama yang ingin disampaikan dapat tersalur dengan baik. Bahkan seolah benar-benar film yang kartini, yang membawa misi untuk memperluas pengetahuan penonton tentang detail tradisi zaman dahulu dan berbagai detail sejarah bangsawan di tanah Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 8 =