Kraton Jogja Gelar Simposium Manuskrip
Jogja Dab! , February 27, 2019, Unisi Radio

 

 

Memperingati 30 tahun Sri Sultan HB X bertahta, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bakal menggelar perlehatan akbar. Selain simposium internasional pada 5 Maret, pameran manuskrip juga akan digelar pada 7 Maret.

Ketua Pelaksana Simposium Internasional, GKR Hayu mengatakan simposium digelar pada 5-6 Maret di Grand Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta dengan mengangkat tema Budaya Jawa dan Naskah Kraton Yogyakarta.

Dalam simposium tersebut akan dikupas empat topik utama. Pertama, persoalan sejarah berkaitan dengan peristiwa Geger Sepehikedua, filologi pasca-Geger Sepehiketiga, pertunjukan seni dan naskah keraton, dan keempat adalah topik sosial budaya. “Sebenarnya sudah lama kami ingin melibatkan komunitas di luar keraton untuk menggelar kegiatan ini. Tetapi baru bisa dilakukan tahun ini, berbarengan dengan 30 tahun Sultan bertahta,” katanya kepada wartawan di Bale Raos Jogja, Jumat (8/2/2019).

Hayu menjelaskan peristiwa Geger Sepehi berdampak banyak terhadap Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Salah satunya, banyak peninggalan leluhur berupa naskah-naskah kuno hilang. Geger Sepehi sendiri merupakan peristiwa penyerbuan Inggris ke Kraton Jogja pada 1812. Akibat peristiwa ini, naskah kuno milik Kraton Jogja banyak yang dibawa ke sana. “Sejak peristiwa Geger Sepehi dari ribuan naskah awalnya, saat ini hanya tersisa tiga,” ucap dia.

Untuk itu dia mengaku sudah mencoba mendapatkan naskah kuno yang tersimpan di British Library. Hasilnya sejumlah naskah berbentuk digital akan diserahkan ke Kraton. Berbagai naskah itulah yang akan dibahas dalam simposium dan ditampilkan dalam pemeran naskah.

Sebut saja misalnya manuskrip tentang Teaching of Hamengku Buwono (HB) I yang berisi tentang cara memimpin dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan raja pertama Kraton Mataram tersebut. Naskah kuno tersebut selama ini hilang dan baru ditemukan di British Library di Inggris.

Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara menjelaskan saat ini sudah ada sekitar 75 manuskrip mulai didigitalisasi. Naskah-naskah tersebut selain berada di Inggris juga di Belanda.

“Digitalisasi naskah kuno ini sebagai titik awal mengembalikan manuskrip di sejumlah negara. Keraton mencoba mengumpulkan jejak sejarah yang selama ini hilang. Hal ini yang perlu dibanggakan masyarakat,” kata Ketua Panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan HB X ini.

Selain pameran naskah dalam bentuk fisik, beberapa naskah yang diserahkan British Library akan ditampilkan dalam bentuk digital. Di antaranya babad, serat, cathetan warni-warni dari perpustakaan Kraton Jogja, teks-teks bedhaya, srimpi, dan pethilan beksan.

Pameran ini terbuka untuk umum mulai jam 09.00 WIB. Pengunjung hanya membayar biaya administrasi masuk ke Bangsal Pagelaran. Ada beberapa naskah yang akan dipamerkan di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran Kraton Jogja pada 7 Maret-7 April 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − eighteen =