[Review] Fantastic Four
Latar , August 16, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: LATAR

character-banner

Dunia paralel, teleportasi, serta mutasi masih menjadi bahan yang menarik untuk diangkat jadi film. Maka, tak salah jika daur ulang film Fantastic Fourmenyuguhkan tema tersebut.

Tentunya, formula yang sama seperti film versi 10 tahun lalu beserta unsur komik aslinya, masih menjadi inspirasi utama. Lantas, seperti apa filmnya usai dibuat ulang oleh studio Fox di bawah arahan sutradara Josh Trank?

Sebelumnya, ada baiknya kita menyimak terlebih dahulu sinopsis Fantastic Four versi baru ini.

Film dimulai dari masa kanak-kanak Reed Richards (Miles Teller) yang sudah terlihat bakatnya sebagai seorang ilmuwan. Ia memiliki sahabat bernama Ben Grimm (Jamie Bell). Waktu kecil, Reed sudah berhasil membuat mesin teleportasi ciptaannya sendiri.

Setelah dewasa, Reed dan Ben bersama-sama memamerkan karyanya dalam sebuah pameran. Sayangnya, ia didiskualifikasi hingga akhirnya ilmuwan bernama Franklin Storm (Reg E. Cathey) tertarik mengajaknya bekerja di Baxter Foundation. Dari situ juga ia mengenal wanita muda bernama Sue Storm (Kate Mara) yang merupakan putri Franklin.

Bersama pria jenius lainnya bernama Victor von Doom (Toby Kebbell) yang menjadi pilihan Franklin, Reed dan Sue mewujudkan mesin teleportasi menuju dimensi lain. Dibantu putra Franklin bernama Johnny (Michael B. Jordan), mereka sukses melakukan uji coba memakai seekor kera.

Setelah uji coba sukses, perwakilan pemerintah menginginkan mesin tersebut digunakan untuk kepentingan NASA. Victor dan Reed yang tak terima, nekat untuk pergi menuju tempat misterius itu agar bisa melakukan penelitian secara individual.

Keduanya lalu mengajak Johnny dan Ben tanpa sepengetahuan Franklin dan timnya. Alhasil, keempat pemuda itu pun memijakkan kakinya di lokasi tandus tersebut. Namun, sebuah insiden membuat Victor tertimpa nasib nahas dan Reed, Ben, serta Johnny menjadi sosok yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bahkan, Sue yang tak ikut pun terkena dampaknya.

Setelah pingsan, mereka berempat lalu menjadi objek penelitian pemerintah. Reed berhasil kabur, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai senjata super. Setahun kemudian, Reed ditemukan dan mereka berempat berpeluang untuk hidup normal meskipun masih di bawah tekanan pemerintah.

Ternyata, pemerintah pun membentuk tim baru untuk meneliti zona misterius tersebut hingga mereka membawa pulang kembali sosok yang mereka duga sudah tak bernyawa. Ancaman pun mulai menghantui manusia sampai akhirnya Reed, Ben, Johnny, dan Sue harus menyatukan kekuatan mereka untuk mempertahankan bumi dari kehancuran.

Sekilas, alur cerita Fantastic Four menarik untuk diikuti. Rasa serial televisi dengan perkembangan cerita yang intens pun membuat kita menantikan apa yang akan terjadi dengan anak-anak muda itu selanjutnya.

Lalu setelah tahu mereka memiliki kekuatan, kita juga dibuat penasaran dengan apa yang akan mereka perbuat setelah menjadi manusia super. Perkembangan cerita pun ditampilkan secara perlahan-lahan dengan berbagai dialog yang harus diperhatikan secara cermat.

Satu lagi hal yang menarik dalam film ini adalah tingkah Victor setelah menjadi sosok bernama Doom. Momen tersebut sempat menimbulkan ketegangan tersendiri. Apalagi, terdapat juga adegan ketika satu wilayah ditarik ke dimensi lain hingga menimbulkan kehancuran parah.

Para penonton film versi 2005 serta fans berat komik Marvel, tentu sudah bisa menebak-nebak alur cerita seperti apa yang akan dihadirkan dalam film ini. Sehingga, nuansa versi lawasnya pun masih sangat kental terasa di dalamnya.

Impian beberapa penggemar komik dan kartun agar bisa melihat aksi Reed Richard, Ben Grimm, Johnny Storm, dan Sue Storm dengan lebih keren, cukup terwujud dalam film ini. Di sini, Reed tampak lebih mahir dalam hal bertarung setelah menjadi manusia karet ketimbang versi terdahulu.

Efek visual setelah Ben menjadi manusia batu pun terlihat keren. Meskipun ada adegan aksinya di trailer yang tak dimunculkan, Ben tetap menjadi salah satu daya tarik film ini. Kekuatan Johnny dan Sue dimunculkan lebih fantastik. Meskipun Johnny tak bedanya dengan versi sebelumnya, namun Sue kini memiliki kekuatan yang lebih dahsyat.

Namun begitu, masih banyak adegan dramatis yang digambarkan kurang maksimal. Sehingga bagi pecinta berat film, beberapa momen seru dalam Fantastic Four malah terasa hambar. Padahal, bisa saja studio atau Josh Trank memasukkan elemen tertentu atau memotong beberapa dialog yang dirasa membosankan.

Pihak studio dan sutradara juga kurang bisa menimbulkan efek kejutan yang membuat mata penonton terbelalak. Adegan aksi yang ditawarkan pun masih kurang banyak, hingga menimbulkan harapan bahwa hal tersebut bakal dimunculkan lewat film kedua.

Dari sisi ikatan antar karakter, akting pemain utama di beberapa adegan sudah cukup baik meskipun ada kesan canggung di beberapa dialognya. Jalinan persahabatan masing-masing tokohnya pun masih dihadirkan dengan kurang kuat.

Sisi antagonis Doom sewaktu masih menjadi manusia tak begitu terasa dan malah tampak seperti pemuda normal, hingga menimbulkan adanya lompatan tak wajar ketika ia sudah menjadi makhluk berwatak keji.

Mungkin bagi beberapa penggemar film superhero terutama adaptasi komik Marvel, Fantastic Four versi baru ini bolehlah dijajal. Setidaknya, film ini cukup aman untuk ditonton bersama keluarga di bioskop-bioskop terdekat.

liputan6.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 9 =