Universitas Atma Jaya Yogyakarta Gelar Gladhen Jemparingan
News , September 15, 2015, Unisi Radio

Unisi Radio Jogja: Campus Reporting News

uajy

Gladhen Jemparingan, sebuah lomba panahan tradisional gaya mataraman digelar dalam rangka memeriahkan Dies Natalies ke-50 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Lomba ini diikuti oleh 100 pemanah terbaik dari Yogyakarta, Klaten, Sukoharjo dan sekitarnya. Gladhen Jemparingan diadakan di Lapangan Jemparingan UAJY, Minggu (13/9).

Ketua Umum Dies Natalies ke-50 UAJY, R Sigit Widiarto SH LLM mengatakan, dari berbagai varian jemparingan gaya mataraman ini, yang dilombakan di UAJY adalah jenis jemparingan di mana sasarannya berupa orang-orangan dengan kepada berwarna merah dan badan berwarna putih.

Apabila peserta mengenai kepala maka akan mendapat point 3, sementara apabila mengenai badan akan memperoleh nilai 1.

“Para pemanah mengenakan pakaian tradisional Jawa membidik sasaran dalam posisi duduk dari jarak 30 meter dan mengarahkan anak panahnya kepada sasaran,” ucap Sigit, sapaan akrabnya kepada Tribun Jogja, Senin (14/9/2015).

Lanjut dia, pertimbangan panitia untuk tetap mempertahankan pelaksanaan lomba panahan tradisional ini yaitu untuk menyehatkan masyarakat dan civitas akademika UAJY.

Pun diharapkan dapat melestarikan nilai-nilai budaya Nusantara yang adiluhung.

“Selain itu, UAJY menyadari bahwa hubungan eratnya dengan masyarakat kian hari haruslah kian ditingkatkan. Semakin intens supaya semakin memperbesar kesempatan UAJY untuk berkembang menjadi sebuah institusi yang semakin dikenal luas oleh masyarakat sebagai sebuah institusi yang merakyat,” jelas Sigit.

Menurutnya, hal itu dilandasi pertimbangan bahwa tanggungjawab institusi dalam melaksanakan aktivitasnya bukanlah semata-mata berorientasi kepada faktor profit, melainkan juga harus mengindahkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

“UAJY sebagai lembaga pendidikan tinggi sudah selayaknya menjadi tempat pertemuan antara misi pendidikan dan pengajaran dengan aspek-aspek kebudayaan lokal,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Sigit lagi, arus globalisasi yang cenderung menjadikan segala sesuatunya menjadi seragam itu, tampaknya telah membuat sebagian orang menjadi jenuh dengan budaya pop.

Mereka menganggap kebudayaan pop tidak hanya bermuara pada kedangkalan makna, namun bahkan cenderung menyesatkan.

“Budaya pop tidak membuat kita menjadi kaya tetapi justru memiskinkan imajinasi, kreatifitas, dan keterhubungan kita dengan alam sekitar. Maka kita perlu memperjuangkan kelestarian budaya lokal, termasuk gladhen jemparingan ini,” tukas Sigit.

tribunjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 11 =