Fast Break 1 Maret 2016 jam 17.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Pemerintah Berlakukan Moratorium Pembangunan Sarana dan Prasarana Kementerian/Lembaga

Pemerintah telah menetapkan kebijakan moratorium bagi pembangunan gedung kantor Kementerian/Lembaga (K/L). Moratorium ini dilakukan agar APBN diprioritaskan pada program-program yang bersentuhan dengan masyarakat luas.

“Tapi apabila sangat diperlukan dan sangat urgent bisa minta izin kepada presiden,” ujar Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dalam arahan pembuka Ratas Terbatas (Ratas) dengan topik Pembangunan Sarana dan Prasarana Kementerian/Lembaga (K/L) pada Senin (29/2/2016).

Kebijakan moratorium tersebut, menurut Jokowi, diberlakukan supaya anggaran bisa lebih diprioritaskan pada program-program yang berdampak langsung pada rakyat. Karena pemerintah lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur dan program-program yang berdampak langsung pada masyarakat.

“APBN fokus prioritaskan pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bendungan, irigasi, jalur kereta api, pelabuhan dan lain-lain, karena memang itu dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat,” kata Jokowi.

Moratorium ini juga menunjukkan komitmen pemerintah untuk menggerakkan reformasi birokrasi yang berorientasi pada hasil dibandingkan dengan hal-hal yang prosedural dan administratif.

“Birokrasi harus bisa menggunakan secara optimal sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai hasil,” sambung dia.

Jokowi menggarisbawahi bahwa telah setahun kebijakan moratorium pembangunan sarana dan prasarana dijalankan. Ia mengaku telah menerima beberapa usulan untuk pembangunan sarana dan prasarana Kementerian/Lembaga, kemudian pada Ratas tersebut diputuskan mana yang tidak dan mana bisa dilakukan (pembangunan).

tribunjogja.com

================================================

Menkominfo Luncuran Prangko GMT 2016

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menerbitkan prangko seri gerhana matahari total 2016.

Seperti dilansir Kominfo.go.id, Senin (29/2/2016), peluncuran prangko oleh Kemenkominfo itu untuk merayakan peristiwa gerhana matahari total yang akan terjadi di Indonesia, 9 Maret 2016.

Untuk melengkapi edisi prangko seri gerhana matahari total 2016 PT Pos Indonesia (Persero) bersama Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi W. Setijono, Rektor ITB, Kadarsah Suryadi, Kepala Observatorium Bosscha, Mahasena Putra melakukan penandatanganan Sampul Hari Peringatan di Observatorium Bosscha, Sabtu (27/02/2016).

Prangko seri gerhana matahari total 2016 ini diterbitkan dalam tiga keping prangko dengan gambar latar belakang peristiwa gerhana matahari yang dikombinasikan dengan kultur budaya Indonesia.

Prangko seri gerhana matahari total, diterbitkan sebanyak 300.000 set dengan harga Rp9.000 per keping atau Rp3.000 per keping, yang diracang oleh desainer Agung EBW dan Triyadi Guntur.

Pada penerbitan prangko seri gerhana matahari total tersebut juga diterbitkan Souvenir Sheet dengan jumlah cetak yang sangat terbatas, yaitu 9.000 lembar dengan harga Rp15.000 per lembar.

Penerbitan Sampul Hari Pertama (SHP) seri gerhana matahari total juga dicetak dengan jumlah yang sangat terbatas yaitu 3.000 buah dengan harga Rp12.000 yaitu dirancang oleh desainer Tata Sugiarta.

Di Indonesia, gerhana matahari total pernah terjadi pada 11 Juni 1983 dan akan terjadi lagi pada 9 Maret 2016 mendatang. Indonesia menjadi satu-satunya wilayah daratan di dunia yang menyaksikan fenomena alam tersebut.

Sedangkan wilayah lainnya yang akan mengalami gerhana tersebut adalah Samudera Hindia dan Pasifik. Gerhana matahari total ini akan berlangsung selama 1 hingga 3 menit dan fenomena ini dapat disaksikan secara utuh di Bengkulu Utara, Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Poso, Palu, Luwuk, Ternate, Tidore dan Halmahera.

Fenomena alam gerhana matahari total itu turut diabadikan oleh komunitas Astronomi, Pusat Penelitian Astronomi, Lapan, Pemerintah Daerah dan Masyarakat di kota-kota seperti Palembang, Bangka Tengah, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Cilacap, Surabaya, Pontianak, Palangkaraya, Balikpapan, Makasar, Jailolo Maba, Ternate, Ambon, Poso, Parigi Mountong dan Palu.

harianjogja.com
================================================
Ancaman Lahar Hujan Masih Tinggi

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengingatkan ancaman banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi masih tinggi.

Karena itu, kata Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Kusdaryanto,menyampaikan warga yang tinggal di sekitar sungai itu terutama Sungai Gendol, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sungai Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, diimbau tetap waspada.

“Warga yang biasa beraktivitas di sungai berhulu Gunung Merapi kami minta untuk tetap waspada selama musim hujan ini karena potensi banjir lahar dingin tetap tinggi,” kata dia Senin (29/2/2016), seperti dikutip dari Antara

Menurut dia, dua sungai yakni Gendol dan Pabelan paling banyak timbunan material lahar erupsi 2010.

“Sebenarnya semua sungai masih ada sisa timbunannya, tapi yang paling berpotensi di dua sungai itu,” katanya.

Ia mengatakan, Sungai Pabelan yang berada di Kabupaten Magelang tersebut, menurutnya ada pertemuan tiga arus sungai. Yaitu Apu, Trising, dan Senowo.

“Sementara Sungai Gendol di Sleman belum lama ini sudah ada kejadian banjir lahar. Sempat satu unit mobil menjadi korban. Tapi tak ada korban jiwanya,” katanya.

Kusdaryanto mengatakan, dari estimasinya, lahar yang masih berada di atas ada sekitar 34 juta meter kubik. Terjadinya banjir sendiri tergantung dari seberapa tingginya curah hujan.

“Pengukuran 2014, ada sekitar 40 juta meter kubik. Kalau sekarang estimasi kami sekitar 34 juta meter kubik tersebar di seluruh hulu sungai,” katanya.

Relawan Satuan Komunikasi Sosial Bersama (SKSB) Cangkringan, Sleman Sriyanto mengatakan pemantauan ancaman banjir lahar dingin diprioritaskan di tempat-tempat penyeberangan sungai.

“Tempat-tempat penyeberangan sungai tersebut banyak yang juga merupakan dam penahan banjir. Namun ancamannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

harianjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − six =