Fast Break 4 Desember 2015 jam 17.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja: Fast Break

Indonesia, Thailand dan Malaysia Bakal Bentuk Bursa Karet

Guna memberikan transparansi perdagangan dan memperbaiki tingkat harga, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Thailand dan Malaysia sepakat membentuk bursa komoditas karet regional (Regional Rubber Market/RRM) pada tahun depan.

Komitmen tersebut disepakati dalam pertemuan tingkat menteri Dewan Karet Tripartit Internasional (International Tripartite Rubber Council/ITRC) 2015 yang dihadiri oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong, Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand Chatchai Sarikulya, dan Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Datuk Amar Douglas Uggah Embas di Jakarta, kemarin.

Thomas mengungkapkan ketiga negara tersebut tengah menaruh perhatian pada rendahnya harga karet global. Saat ini, harga karet alam lebih rendah dari biaya produksinya yaitu sekitar US$ 1,2 per kilogram. Padahal, tahun 2012 harga karet alam bisa menembus US$ 4,9 per kilogram.

Melalui bursa karet alam regional ini, harga karet di tiga negara yang 67 persen pangsa produksi global menjadi transparan sehingga baik untuk menciptakan pasar yang kompetitif. Platform tersebut juga memberikan fungsi lindung nilai komoditas karet yang efektif dan akan menguntungkan bagi produsen, konsumen, dan pelaku pasar seluruh dunia.

“Pembentukan bursa pasar karet regional ditargetkan pada Juni 2016 atau bahkan lebih awal jika mungkin,” kata Thomas dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (3/12).

Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kemendag Bachrul Chairi menambahkan pembentukan RRM akan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, dimulai 1 Januari 2016, ketiga negara akan menyajikan publikasi harga karet di pasar regional. Publikasi itu akan dipublikasikan secara rutin sembari mempersiapkan platform elektronik pendukung.

“Juni 2016 itu semua informasi perdagangan (karet) di tiga negara ini secara platformnya sama. Platform eletroniknya dijadikan satu sehingga nanti bisa centralized. Jadi itu tingkatan kedua,” kata Bachrul.

Dengan adanya platform tersebut, ketiga negara akan saling menyamakan standar, aturan, kualitas, dan arbitrase dalam perdagangan komoditas karet di tingkat regional.

“Platform kita untuk seterusnya bisa memperkuat pembuatan future market karet di tiga negara ini,” kata Bachrul.

Sebagai informasi, berdasarkan Kelompok Studi Karet Internasional (International Rubber Study Group/IRSG) total persediaan (stock) karet alam global per September 2015 mencapai 2,8 juta ton atau merosot dari capaian periode yang sama tahun lalu, 3,2 juta ton.

Sementara berdasarkan data Asosiasi Negara Produsen Karet Alam (Association of Natural Rubber Producing Countries/ANRPC) yang menguasai 92 persen pangsa produksi global, total produksi karet alam tahun ini diperkirakan sebesar 10,94 juta ton atau turun 0,1 persen dari sebelumnya, 10,95 juta ton.

cnnindonesia.com

====================================

Baron Technopark Pusat Penelitian Energi Terbarukan

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT), Unggul Priyanto menargetkan Baron Technopark yang terletak di Desa Planjan, Saptosari bisa menjadi salah pusat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Kawasan ini menjadi pusat edukasi serta mendukung keberadaan pariwisata yang ada di Gunungkidul. “Selain untuk mendukung wisata, nanti juga akan dijadikan sebagai pusat penelitian energi terbarukan,” katanya saat mendampingi gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan rektor UGM, Drikorita Karnawati melakukan kunjungan ke Baron Technopark, Kamis (3/12/2015).

Menurut Unggul, saat ini di kawasan Baron Technopark tengah dikembangkan energi terbarukan mulai dari listrik tenaga bayu atau angin dengan kapasitas 15 kilowatt, listrik tenaga surya dengan kapasitas 40 kilowatt, listrik tenaga diesel berbahan baku biofuel dengan kapasitas 100 kilowatt.

Listrik yang dihasilkan tersebut seluruhnya digunakan untuk keperluan operasional peralatan yang ada di Baron Technopark. “Kita tidak pakai listrik dari PLN, semuanya dipenuhi dari listrik yang dihasilkan sendiri di Baron Technopark,” jelasnya.

Selain itu juga sudah dibangun pusat pengolahan air tawar berbahan baku air laut, pengolahan biodiesel berbahan baku minyak goreng bekas, biji jarak, biji nyamplung serta pengolahan limbah batu putih dan pusat informasi dan multimedia. Selain itu juga sudah dibangun jam matahari sebagai sarana pendukung kawasan Baron Technopark.

Nantinya kawasan ini akan terus dikembangkan menjadi sebuat sarana edukasi riset dan developmen, pelatihan dan diseminasi iptek untuk meningkatkan kwalitas riset dan sumber daya manusia.
“Kedepan targetnya Baron Technopark sebagai model kawasan wisata edukasi dan mandiri energi melalui pemanfaatan teknologi EBT. Target kita tahun 2019 bisa dimanfaatkan untuk skala nasional,” ucapnya.

Untuk mendukung pusat penelitian energi terbarukan tersebut, menurut Unggul, diperlukan peran serta pemerintah daerah dan kalangan perguruan tinggi. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X usai melakukan kunjungan meminta keberadaan Baron Technopark bisa dimanfaatkan untuk kepentingan publik. Baik penelitian energi terbarukan atau hasil penelitian BPPT bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga bisa meningkatkan kesejahteraannya.

“Harapan saya bisa dimanfaatkan untuk publik, apakah pembenihan atau apa yang sesuai dengan yang dikembangkan oleh BPPT dan juga cocok dengan warga di Saptosari”, pungkasnya.

tribunjogja.com

====================================

Ini 5 Nama Tim Kecil Bentukan Menpora

Nama-nama anggota tim kecil yang dibentuk pemerintah untuk bernegosiasi dengan FIFA sudah ditentukan.

Sejumlah tokoh yang memiliki kemampuan diplomasi internasional masuk dalam tim tersebut. Setidaknya tiga dari lima nama tersebut punya kapasitas lobi yang tidak diragukan.

Mereka adalah Djoko Susilo, mantan dubes RI di Swiss; Rita Subowo, mantan ketua umum KOI; dan Makarim Wibisono, diplomat senior di kemenlu. Selain itu ada Gatot S. Dewa Broto, deputi V kemenpora dan Dede Sulaiman, mantan pemain timnas Pra Piala Dunia 1985-1986.

“Nama-nama ini sudah dikirimkan melalui surat resmi ke FIFA tadi siang (kemarin),” kata Gatot S. Dewa Broto Selasa (2/12).

Djoko Susilo dinilai pantas karena sebagai mantan dubes Swiss tentu punya koneksi dengan FIFA yang berkantor di negara itu.

Sedangkan Rita Subowo saat menjadi ketua komite Olimpiade Indonesia (KOI) sangat lihat dalam melakukan lobi internasional. Kehadiran Makarim Wibisono sebagai wakil kemenlu tentu akan menambah kekuatan diplomasi tim kecil tersebut.

Nama-nama wakil pemerintah Indonesia itu diserahkan kepada FIFA bersamaan dengan rapat Komite Eksekutif FIFA yang berlangsung di Zurich, Swiss mulai kemarin (2/12) hingga hari ini (3/12).
Menurut Gatot, nama-nama tersebut dikirimkan sebagai pemberitahuan resmi bila pemerintah Indonesia telah membentuk tim kecil untuk berkomunikasi dengan FIFA.

“Untuk teknis komunikasinya bagaimana kami menunggu umpan balik dari mereka (FIFA, Red),” kata pria yang juga juru bicara Kemenpora itu.

jawapos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 10 =