FastBreak 12 Maret 2014 jam 17.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja : FastBreak

SNMPTN Diskriminatif, Mendikbud Disomasi

Polemik tudingan diskriminasi dalam pendidikan nasional terus berlanjut. Siang ini, puluhan orang dari 10 Organisasi Penyandang Disabilitas menyambangi kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kedatangan mereka dimaksudkan untuk menyerahkan surat somasi kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh.

“Kalau dalam waktu tujuh hari belum ada tanggapan dari Mendikbud, maka kami akan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN),” ujar Koordinator Persatuan Penyandang Disabilitas (PPDI) Mahmud Fasa di Depan Kantor Kemendikbud, Rabu (12/3/2014).

Menurut Mahmud, keberadaan diskriminasi dalam dunia pendidikan nasional merupakan tanggung jawab Mendikbud. Dia mengkritik, Kemendikbud telah mendapatkan jatah dana dari APBN cukup besar, yakni 20 persen, tetapi tidak menunjukkan kinerja yang baik. Apalagi sampai mencuat diskriminasi dalam pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014.

“Contohnya di jurusan Filsafat, pendaftar tidak boleh cacat tubuh. Padahal jurusan tersebut belajarnya kebanyakan hafalan saja,” tegasnya.

Sebenarnya, Mahmud melanjutkan, Mendikbud tidak perlu bersusah payah untuk menyelesaikan masalah ini. Mendikbud hanya perlu menelepon para rektor PTN dan meminta mereka mencabut persyaratan SNMPTN yang diskriminatif tadi.

“Ada 62 PTN yang mensyaratkan tidak boleh penyandang disabilitas, padahal banyak di antara mereka yang jadi dokter dan insinyur,” ucapnya.

Mahmud menilai, pendaftaran SNMPTN tahun ini yang paling menggemparkan. Nampaknya, kata Mahmud, seperti ada pihak yang sengaja membatas-batasi hak penyandang disabilitas.

“Tadi kami ke Komnas HAM untuk melaporkan pelanggaran hak asasi manusia penyandang disabilitas. Kami tidak hanya memberikan somasi kepada Mendikbud tetapi juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia dan Ketua Panitia SNMPTN 2014,” imbuh Mahmud.

Kemendikbud layak mendapatkan somasi karena sudah melanggar UU No 19 Tahun 2011. Dalam peraturan perundang-undangan itu tercantum 26 hak penyandang disabilitas.

“Panitia SNMPTN memang punya pandangan sendiri mengenai persyaratan yang mereka ajukan. Tapi kami juga sadar diri jika tuna netra enggak akan mendaftar jurusan yang tidak sesuai dengan keadaannya,” kata Mahmud

okezone.com

============================================================

Relawan Pengawas Pemilu di DIY Mencapai 10 Ribu Orang

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY hingga saat ini sudah menerima sekitar 10 ribu Relawan Pengawas Pemilu. Jumlah tersebut tersebar di lima Kabupaten dan Kota di seluruh DIY.

Ketua Bawaslu DIY, M Najib mengatakan, para relawan tersebut mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Meskipun juga ada yang berasal dari organisasi kemasyarakatan (ormas), pengawas lapangan, dan Panwas Kecamatan. Ia mengatakan, pergerakan mereka akan dimulai ketika memasuki masa kampanye, masa tenang hingga penghitungan suara. Koordinasi yang dilakukan adalah melalui Panwas di masing-masing kecamatan dan Kabupaten.

“Sejauh ini belum nampak terkait progres mereka, dan itu wajar, karena ini masih dalam tahap awal. Nanti saat memasuki masa kampanye baru mulai terlihat,” kata Najib, Rabu (12/3/2014).

Menurutnya, keberadaan panwas dalam penyelenggaraan Pemilu di Indonesia masih sangat diperlukan. Berbeda dengan negara lain yang pengawasan justeru dilakukan oleh masyarakat pemilih sendiri.

“Idealnya memang pengawasan itu dilakukan oleh para pemilih sendiri, sehingga akan menghasilkan Pemilu yang berkualitas dalam memeroleh pemimpoin,” katanya.

tribunnews.com

============================================================

Perempuan Australia Usia 70 Tahun Pecahkan Rekor Atletik

Seorang perempuan berusia 70 tahun di Australia memecahkan rekor dunia untuk kelompok usia 70 hingga 74 tahun dalam sebuah kejuaraan atletik.

Perempuan bernama Lavinia Petrie itu memecahkan rekor dalam kategori lari 10.000 meter dan 5.000 meter dalam rangka kejuaraan Australian Masters Athletics di kota Hobart, Tasmania.

Hari Sabtu (8/3/2014), ia memecahkan rekor dunia dalam kategori 10.000 meter dengan pencapaian waktu 44:43:27. Kemudian, ia memecahkan rekor dunianya sendiri dalam kategori 5.000 meter dengan pencapaian waktu 21:34:08.

Saat ini Petrie memegang lima rekor dunia untuk kategori lari 10.000 meter, 5.000 meter, 3.000 meter, satu jam dan setengah marathon (half marathon).

Perempuan berusia 70 tahun ini biasanya berlatih lari 50 hingga 54 kilometer per minggu.

“Saya sudah berlari sejak berusia 16 tahun, dan saya belum pernah mengalami luka berat atau menjalani operasi besar,” ceritanya, “Saya telah menjalani scan seluruh tubuh dan diberitahu bahwa tulang saya sebagus tulang orang berusia 18 tahun.”

Petrie mengaku kagum melihat aksi lompat galah laki-laki dalam kejuaraan di Hobart tersebut.

“Saya ingat lompat galah yang dilakukan atlet pemegang medali emas Olimpiade] Steve Hooker, dan melihat ukuran galahnya. Kemudian saya lihat para laki-laki lanjut usia itu. Jelas, mereka tak melompat setinggi Steve, tapi mereka bisa mendirikan galah tersebut dan mengangkat diri mereka ke udara…benar-benar luar biasa,” ceritanya.

Sebanyak 528 atlet yang berusia antara 30 hingga 90 tahun berkompetisi dalam kejuaraan tersebut.

detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + four =