FASTBREAK 14 MARET 2017

FastBreak

Ini Tujuh Pelaku Klitih yang Ditangkap Polisi, Rata-rata Mereka Anak Ingusan

Satreskrim Polresta Yogyakarta menangkap para pelaku kejahatan jalanan. Pelaku klitih ini adalah mereka yang terlibat penyerangan yang mengakibatkan meninggalnya Ilham Bayu Fajar (17), siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Piri 1 Yogyakarta di jalan Kenari, Minggu (12/3/2017) dini hari kemarin. Selasa (14/3) ini tujuh orang pelaku diamankan dan rata-rata masih di bawah umur.

Adapun para pelaku adalah inisial Fai alias Suryo (16) pelajar SMU kelas 1 warga Tamanan Bantul, Tgr (14) pelajar SMP kelas 2 warga Gowok Caturtunggal Sleman, Jal (15) pelajar SMP kelas 2 warga Rejowinangun Kotagede, Kml (15) pelajar kelas 3 home schooling warga Ngampilan, Ald (17) warga Sewon yang juga home schooling, Rdh (18) warga Sewon dan Novian (20) warga Keparakan Mergangsan.

Sedangkan barang bukti yang diamankan berupa dua buah senjata tajam jenis clurit dan tiga sepeda motor yang digunakan pelaku saat melakukan penyerangan. Kapolda DIY Brigjend Pol Ahmad Dhofiri mengatakan kasus klitih ini telah menjadi perhatian bagi jajarannya. Tak kurang dari dua hari satreskrim polresta yogyakarta berhasil menangkap tujuh dari dari sembilan anak yang diduga terlibat dalam penyerangan itu.

“Indikasinya ada sembilan orang pelaku. Saat ini sudah tujuh orang diamankan dan masih mengejar dua orang lagi,” terangnya.

Adapun motivasi mereka melakukan penyerangan adalah ketersinggungan dari para pelaku. Berdasarkan pemeriksaan tersangka, diakui kronologi kejadian adalah saat korban dan rombongan pelaku berpapasan kemudia keluar kata umpatan keluar dari mulut korban.

“Karena para pelaku ini merasa tersinggung, mereka berbalik arah, mengejar korban dan langsung menyerang korban menggunakan senjata tajam jenis clurit,” papar Kapolda.

tribunjogja.com

=========================================================

Bangunan Melanggar di Atas Talut Kali Code Akan Segera Dibongkar

Sejumlah bangunan yang melanggar dan berdiri di atas talut Kali Code yang mengalami longsor akan segera dibongkar dalam waktu dekat. Hal ini ditujukan untuk mengamankan beberapa rumah warga yang berada di bawah talut dari ancaman bahaya longsor.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPK) Kota Yogyakarta, Wijayanto mengatakan beberapa bangunan di atas talut akan dibongkar. Beberapa bangunan ini, kata dia, khususnya di bagian belakang bangunan tambahan di luar bangunan inti yang memiliki izin.

“Untuk beberapa bangunan di belakang seperti pagar akan dibongkar. Ini agar tidak membahayakan,” katanya, Senin (13/3/2017).

Adapun untuk keamanan, BPBD setempat pun akan menutupi bagian yang longsor dengan terpal. Hal ini agar tidak membahayakan warga di sekitar lokasi. Untuk sementara waktu, warga pun masih diminta untuk mengungsi
Dia mengatakan, sembari membongkar bangunan yang menyalahi izin, talut nantinya akan dibiarkan alami tanpa konstruksi.

Hal tersebut sesuai dengan rekomendasi dari Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) yang hanya akan membangun talut sementara di lokasi longsor di Kampung Terban, Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman.
Talut sementara itu berupa tanah yang ditanami pohon dan rumput.

“Penanganan talut alami itu hanya sementara, detailnya ada di BBWSSO. Sementara perbaikan jangka panjangnya masih dalam kajian karena butuh perencanaan yang matang, selain itu juga butuh dana yang besar,” paparnya.

tribunjogja.com

===========================================================

Tokoh Lintas Agama Tanda Tangani Komitmen Anti-perbudakan Modern

Sejumlah tokoh lintas agama yang mewakili seluruh agama yang diakui di Indonesia, menandatangani komitmen perlawanan terhadap perbudakan modern yang berkembang di dunia, Selasa (14/3/2017).

Proses penandatanganan tersebut disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres. Kegiatan yang digagas Universitas Paramadina dan Global Freedom Network (GNF) ini dianggap sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap perbudakan modern. Hal itu juga sesuai dengan rumusan dalam Sustainable Development Goals.

“Terlebih karena melawan perbudakan modern adalah mandat konstitusi Indonesia, dimana disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 ‘kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan’,” kata Rektor Universitas Paramadina Firmanzah.

Sementara itu, Chairman of GNF Andrew Forrest berharap, penandatanganan tersebut dapat menginspirasi pemerintah serta para pelaku bisnis untuk bergabung dalam perlawanan terhadap perbudakan modern.

“Saya sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan dan menyambut baik keberanian dan keyakinan mereka dalam bekerja sama dalam mengakhiri perbudakan modern,” kata Forrest.

Dalam kesempatan itu, GNF yang baru saja diluncurkan di Indonesia, juga menunjuk seniman Maudy Ayunda sebagai Duta Antiperbudakan Modern.

Sebagai salah satu sosok generasi muda dan seniman yang cukup bersinar, Maudy diharapkan dapat menyebarkan pesan dari aksi tersebut kepada seluruh generasi muda.

Ada pun Wapres Jusuf Kalla menekankan, pentingnya percepatan pembangunan bangsa.

Menurut Kalla, hanya bangsa yang maju yang cenderung lebih cepat mengurangi perbudakan. Untuk diketahui, berdasarkan laporan Indeks Perbudakan Global 2016, 45,8 juta orang di dunia masih hidup dalam perbudakan modern.

Di Indonesia, 736.100 orang masih terjerat dalam kondisi diperbudak. Beberapa bentuk perbudakan yang kerap ditemukan di Indonesia seperti perdagangan manusia, kerja paksa dan perbudakan di laut.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − four =