FastBreak 19 Mei 2015 jam 10.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja: FastBreak

Dubes RI untuk Pakistan Meninggal

burhan

Duta besar Republik Indonesia untuk Pakistan, Burhan Muhammad, yang mengalami kecelakaan helikopter di kawasan Gilgit Baltistan pada 8 Mei meninggal di General Hospital Singapura pada Selasa (19/5) sekitar pukul 00.50 Wib.

Dubes Burhan Muhammad meninggal karena luka berat yang dialaminya. Menurut kabar yang beredar, Burhan mengalami 70 persen luka bakar. Ia dirawat sejak 12 Mei. Sementara istrinya, Hery Listyawati Burhan, tewas di lokasi kejadian dan jenazahnya sudah dikebumikan di Yogyakarta.

Selain Hery Listyawati, kecelakaan tersebut memakan korban 6 orang lainnya yaitu Duta Besar Finlandia Leif Larsen, Duta Besar Filipna Domingo Lucenario, istri Duta Besar Malaysia, Habibah Binti Mahmud dan tiga awak pesawat Warga Negara Pakistan.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi memastikan Duta Besar RI untuk Pakistan Burhan Muhammad akan dibawa ke Tanah Air hari ini. Burhan rencananya akan dimakamkan di Yogyakarta.

beritasatu.com

=====================================

Labuhan Merapi Kembali Digelar, Ini Rangkaiannya

Upacara adat Labuhan Merapi akan kembali digelar di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan. Prosesi labuhan akan dimulai Selasa (19/5/2015) hingga puncak acara pada Rabu (20/5/2015).

Kepala Desa Umbulharjo, Bejo Suwarno mengatakan rangkaian upacara labuhan akan diawali dengan penyerahan ubo rampe dari pihak Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat kepada Camat Depok, Budiharjo di Pendopo Kecamatan.

Selanjutnya ubo rampe akan dibawa ke Kecamatan Cangkringan untuk diserahkan kepada juru kunci Gunung Merapi.

“Pelaksanaan rangkaian upacara adat labuhan masih sama dengan kegiatan yang digelar pada tahun sebelumnya,” ungkapnya, Senin (18/5/2015).

Menurutnya yang menjadi pembeda upacara labuhan kali ini adalah digelarnya arak-arakan ubo rampe dari Kecamatan Cangkringan ke Balai Labuhan di Kinahrejo dengan menggunakan jip.

Turut serta dalam arak-arakan tersebut rombongan bregada dan abdi dalem Keraton.

“Rutenya melewati Huntap Plosokerep, di tahun sebelumnya ubo rampe langsung dibawa ke Kinahrejo tanpa ada acara (arak-arakan),” paparnya.

Sesampainya di Balai Labuhan Kinahrejo yang merupakan petilasan Mbah Maridjan, akan digelar upacara seremonial. Di sela acara akan diselingi fragmen labuhan dan kesenian jathilan.

“Pada malam harinya akan dilakukan doa dan kenduri wilujengan dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon ‘Dumadining Gunung Merapi’ oleh Dalang Ki Cermo Suwondo,” katanya menjelaskan.

Sebagai puncaknya, acara labuhan akan digelar di Bangsal Sri Manganti pada pagi harinya, Rabu (20/5/2015). “Labuhan Merapi merupakan upacara adat yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, khususnya warga Umbulharjo,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, AA Ayu Laksmidewi mengatakan even labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto.

Diharapkan upacara adat ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara.

“Hal ini karena keunikan upacara adat ini yang tidak ditemui di daerah lain. Sehingga setiap tahunnya pengunjung yang hadir semakin banyak. Diharapkan ke depannya promosi even semacam ini dapat dikembangkan sehingga semakin dikenal oleh masyarakat luas,” paparnya.

tribunjogja.com

=====================================

Sultan Ingatkan Kepemimpin Bukan Semata Gelar

Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X memperingati jumenengan ke-27 melalui sebuah prosesi yang dilaksanakan di Pagelaran Kraton, Senin (18/5/2015). Dalam kesempatan tersebut, Sultan kembali mengingatkan tentang sebuah gelar yang kemudian menjadi tak lagi penting dalam menghadapi perubahan jaman pada saat ini.

Sultan mengatakan, yang terpenting dari seorang pemimpin bukan lagi pada nama gelar ataupun hubungan darah tertentu, namun tahta kepemimpinan tersebut benar-benar ditujukan untuk rakyatnya. “Dalam era saat ini bukan lagi ungkapan ‘what this’ saja tetapi juga ‘what for’. Maknanya, bagaimana pemimpin berbuat nyata bagi rakyatnya dan hal tersebut harus benar-benar diwujudkan sebagai bagian dari iman yakni sebagai ageming aji,” ungkap Sultan.

Peristiwa peringatan jumenengan yang berdekatan dengan Isra Miraj dimaknai secara lebih mendalam oleh Sultan, ketika Nabi Muhammad diberikan perintah langsung dari Allah untuk menjalankan sholat lima waktu. Peristiwa tersebut menurut Sultan hanya akan bisa dimaknai dengan menggunakan iman.

“Ini sangat sesuai dengan makna Hamemayu Hayuning Bawono yakni tentang sebuah kewajiban moral yang harus di‎aktualisasikan ke dalam masyarakat. Hal itulah yang kemudian menjadikan manusia mampu menjalin hubungan baik itu horisontal maupun vertikal kepada Tuhan dan sesama,” kata Sultan.

Sultan juga mengingatkan agar masyarakat mampu memaknai filosofi yang selama ini ditanamkan kedalam kehidupan sehari-hari. “Itulah makna pentingnya yakni bagaimana nilai filosofi diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam segala sendi kehidupan termasuk di dalamnya budaya yang seharusnya mampu membangun persaudaraan,” ungkapnya lagi.

Dalam peringatan tersebut, dipentaskan pula tatian Bedhaya Sang Amurwabhumi dan pertunjukan wayang orang Suprabawati Boyong di mana dua puteri Sultan yakni GKR Mangkubumi dan GKR Bendhoro turut serta memainkan peran sebagai bidadari.

krjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 3 =