FastBreak 22 Agustus 2013 jam 10.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja:

Bupati Sleman Sri Purnomo menilai, turunnya hewan buas seperti macan dari Merapi ke kawasan ladang warga merupakan akibat adanya gangguan atau ketidakseimbangan antara flora dan fauna di Lereng Merapi.

“Melihat kejadian kemarin bisa diindikasikan bahwa keseimbangan alam flora dan fauna agak terganggu,” tegas Sri Purnomo, Rabu (21/8/2013).

Ia berpendapat, rusaknya ekosistem ditandai dengan turunnya macan yang mengakibatkan matinya empat hewan ternak warga karena kurang tersedianya makanan di lereng Merapi. Sehingga hewan tersebut mencari sasaran lain.

“Saya mengimbau masyarakat di lereng Merapi untuk lebih hati-hati dalam menjaga hewan ternak, termasuk mengecek kandang. Selain itu keseimbangan alam dan ekosistem yang ada di sana juga harus dijaga,” imbaunya.

Sementara itu Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Asep Nia Kurnia menyatakan pada tahun 2012 sebaran macan tutul sampai di Sri Manganti. Sebab disana ditemukan jejaknya. Dilihat dari temuan itu, potensi ancaman serangan macan terhadap hewan ternak masih dimungkinkan terjadi. Selain wilayah sebarnya, serangan macan lebih karena disebabkan kandang ternak milik warga berada jauh dari pemukiman.

“Jauhnya letak kandang ternak dari pemukiman, sama halnya mengundang macan datang. Karena berdasar sifatnya, macan akan datang jika tidak ada keramaian,” paparnya.

Terkait rencana pemasangan jaring, ia berpendapat itu belum perlu dilakukan sebab peristiwa kemarin belum masuk dalam kategori potensi besar sehingga bisa diatasi dengan meningkatkan kewaspadaan.

“Warga cukup menghalau dengan meningkatkan Siskamling dan mengubah lokasi kandang ke dekat pemukiman,” katanya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pada Selasa (20/8/2013) empat ekor kambing Etawa milik Margoto (45), warga Dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman ditemukan mati dengan badan tercabik-cabik. Dari ciri-ciri luka dan jejak yang ditemukan, warga menduga matinya empat ekor kambing tersebut akibat serangan macan Merapi yang turun ke ladang.
____________________________________________________________________

Melemahnya nilai tukar rupiah justru menjadi berkah bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang sedang menghabiskan liburan musim panas di wilayah DIY. Sebab, nilai tukar dolar terhadap rupiah semakin tinggi sementara harga-harga relatif stabil.

Direktur Mulia Money Changer Jogja Budi Waluyo mengatakan transaksi penukaran uang asing dalam dua bulan ini diakuinya meningkat. Tetapi,  kondisi ini bukan lantaran adanya depresiasi rupiah melainkan karena peak season wisatawan Eropa. Disaat-saat pelemahan rupiah seperti sekarang ini, kata Budi wisman memang diuntungkan karena mereka bisa mendapatkan rupiah lebih banyak dibanding sebelumnya.

Meski demikian, kata Budi, penukaran uang para wisman di money changer yang berada di kawasan Malioboro ini masih dalam jumlah yang wajar US$500 sampai US$1.000. “Wisman yang datang menukarkan uang tidak mempersoalkan nilai tukar rupiah. Mereka hanya butuh rupiah tergantung keperluan,” ucap Budi, Rabu (21/8/2013).

Selama momen liburan musim panas ini kata dia penukaran uang kebanyakan dalam bentuk dolar dan euro. Dalam sehari, katanya setidaknya money changer ini dapat melayani 300 transaksi sampai 400 transaksi. Ramainya transaksi penukaran uang asing diperkirakan akan berlangsung akhir bulan ini.
____________________________________________________________________

– Polisi Inggris menyelidiki pelaku yang membunuh dan memanggang angsa milik Ratu Elizabeth II. Angsa itu dibunuh, dipanggang, lalu bangkainya dibuang ke sungai di dekat Istana Windsor di barat London, Inggris.

Polisi dan kalangan pencinta binatang sebagaimana dikutip kantor berita AFP, Rabu (21/8/2013), mengatakan semua angsa dan unggas liar di Inggris merupakan milik kerajaan. Karenanya, setiap penyerangan dan pembunuhan atas angsa dan unggas lain dianggap sebagai serangan pada Ratu.

Pekerja pencinta binatang, Wendy Hermon menuturkan dia langsung “lemas” begitu menemukan bangkai angsa tersebut pada Minggu (18/8/2013). “Tinggal bangkai, setelah dipanggang,” ujar dia yang selama ini mengelola Swan Lifeline, badan yang merawat unggas atau burung yang sakit atau cedera.

Polisi dari kawasan Thames Valley pun menyatakan mereka kini sibuk menangani kasus ini. Angsa secara historis sering disajikan dalam beragam pesta di Inggris. Namun sejak 1981, terbit Undang-undang perlindungan angsa di Inggris.

Berdasarkan UU itu, dinyatakan bahwa Kerajaan Inggris merupakan pemilik dari semua angsa liar di negara tersebut. Namun keluarga kerajaan hanya mengawasi keberadaan angsa di Sungai Thames. Berkala setahun sekali, dilakukan sensus untuk menghitung jumlah angsa di sepanjang Sungai Thames, khususnya di wilayah Middlesex, Surrey, Buckinghamshire, Berkshire dan Oxfordshire.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + fifteen =