FASTBREAK 23 JANUARI 2018

FastBreak

Calon Pengantin di Jogja akan Diwajibkan Ikut Kursus Pranikah

Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota Jogja akan mewajibkan kepada semua calon pengantin untuk mengikuti kursus sebelum melangsungkan akad nikah. Bahkan jam kursus pun akan diperpanjang dari sebelumnya dua jam menjadi 16 jam selama dua hari.

Kepala Kemenag Kota Jogja, Sigit Mursita mengatakan kursus calon pengantin atau suscatin selama ini belum maksimal. Bahkan ada yang tidak melalui kursus dengan alasan kesibukan calon. Padahal, kata dia, kursus calon pengantin sangat penting sebagai bekal membangun rumah tangga yang harmonis.

“Calon pengantin ini kan belum memiliki ilmu bagaimana menjadi ibu, menjadi bapak, dan mengelola konflik dalam rumah tangga,” kata Sigit, Minggu (21/1/2018).

Sigit mengaku angka perceraian di Jogja masih cukup tinggi, meski ada tren penurunan. Kemenag Kota Jogja mencatat kasus talak cerai selama 2017 sebanyak enam kasus untuk talak dan 26 kasus untuk cerai. Penyebab cerai di antaranya karena pernikahan dini, faktor ekonomi, hingga konflik keluarga.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk kelanggengan pernikahan adalah melalui kurus calon pengantin. Suscatin ini menjadi perioritas perogram Kemenag dan DIY akan menjadi perontohan penerapan kurus 16 jam selama dua hari penuh.

“Kedepan sertifikat suscatin ini akan menjadi syarat nikah,” kata Sigit. Saat ini, upaya mewajibkan kurus masih dalam proses. Pihaknya masih menunggu Peraturan Daerah yang masih digodok di Pemda DIY terkait Perda Ketahanan Keluarga.

Peraturan tersebut yang bisa memaksa semua pihak untuk mendukung penyelenggaraan kursus pengantin selama 16 jam. Karena diakui Sigit, butuh waktu khusus agar suscatin berjalan lancar. Maka dibutuhkan izin dari lembaga atau perusahaan dimana calon penganti bekerja. “Pengalaman kemarin, kendala suscatin ini soal izin dari perusahaan swasta maupun negeri,” ujar Sigit.

Lebih lanjut Sigit mengatakan untuk penyelenggara suscatin tidak hanya dilakukan oleh Kementrian Agama. Namun beberapa lembaga dan organisasi keagamaan bisa melaksanakannya dengan rekomendasi Kementrian Agama. Sertifikat dari suscatin nantinya menjadi syarat yang harus ada dalam lampiran permohonan nikah.

harianjogja.com

=================================================================

Lingkungan Buruk, Setahun 33 Balita di Kota Jogja Meninggal Dunia

Dinas Kesehatan Kota Jogja mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing. Imbauan ini terkait masih tingginya angka kematian balita di Jogja.

Dinas Kesehatan mencatat angka kematian balita di Jogja selama 2017 lalu sebanyak 33 orang. Jumlah ini meningkat di banding 2016 lalu, sebanyak 30 orang. “Penyebab kematian balita adalah karena radang paru dan diare. Ini karena kondisi lingkungan yang kurang sehat, maka perlu ditingkatkan lagi PHBS,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jogja, Agus Sudrajat, saat dihubungi, Senin (22/1/2018).

Agus mengklaim angka kematian balita di Jogja masih terbilang rendah di banding angka rata-rata nasional. Bahkan menurut dia, angka kematian itu sudah menurun dibanding 2015 lalu sebanyak 34 orang. Kendati demikian, pihaknya tetap berupaya untuk terus menekan angka kematian balita.

Beberapa program yang dilakukan di antaranya menggencarkan gerakan PHBS, gerakan masyarakat hidup sehat (Germas), Si Kesi Gemas atau sistem kelurahan siaga gerakan masyarakat hidup sehat dan SIPP-Mas atau sistem Informasi promosi dan pemberdayaan berbasis Website dan Android yang telah diluncurkan akhir tahun lalu.

Agus menyarankan pentingnya cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap akan menyentuh balita, terutama saat pulang kerja. Hal itu untuk menghindari adanya kuman dan virus yang dibawa yang berpotensi menyerang kekebalan tubuh balita.

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya menyediakan ventilasi udara dan cahaya matahari yang bisa masuk ke dalam rumah. Tahun ini pihaknya akan memberikan bantuan berupa genteng kaca kepada masyarakat, khusus masyarakat miskin pemegang kartu menuju sejahtera (KMS)?. Anggaran pengadaan genteng kaca, sekitar 40,5 juta. Genteng kaca dimaksudkan agar sinar matahari masuk ke dalam rumah. “Karena kuman akan mati jika terkena matahari,” ujar Agus.

harianjogja.com

==================================================================

Polisi Duga 72.000 Permohonan Fiktif Paspor “Online” Dilakukan Calo

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan terhadap temuan 72.000 permohonan fiktif paspor online. Polri menduga, permohonan paspor dilakukan secara serentak oleh calo.

“Sepanjang yang dilakukan sekarang, kayaknya motif percaloan lah. Mencari keuntungan,” ujar Setyo di Kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (22/1/2018).

Setyo mengatakan, pelaku melihat kesempatan karena pembuatan paspor online banyak peminatnya. Diduga, pelaku juga memakai akun-akun fiktif dengan memasukkan identitas palsu ke akun tersebut. Menurut polisi, pelaku pasti memiliki kemampuan teknologi yang mumpuni.

“Jadi nanti bisa diperbaiki datanya, dimasukin data lain,” kata Setyo.

Salah satu kolom yang diisi dalam.permohonan paspor online adalah Nomor Induk Kependudukan. Jika sistem paspor online tidak secara otomatis bisa melakukan verifikasi nama dan NIK yang diinput, maka kecurangan bisa dilakukan.

“Kalau bisa langsung verifikasi kan ditolak sama imigrasinya,” kata Setyo.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 5 =