FastBreak 26 April 2013 jam 14.00

FastBreak

PT Pertamina Pemasaran Jateng, Yogyakarta menjamin pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar akan normal kembali dalam satu sampai dua hari ke depan. Saat ini, Pertamina tengah melakukan normalisasi pasokan ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kedua propinsi itu.

General Manager Fuel Retail Marketing PT Pertamina Jateng-DIY, Rifky E Hardijanto mengatakan, Pertamina memutuskan mengembalikan pasokan solar bersubsidi pada posisi normal secara bertahap hingga tiga hari ke depan.

Menurutnya, sejak tiga hari lalu pasokan sudah ditingkatkan hingga sebesar 11 persen, kemudian secara bertahap hingga sudah mencapai 80 persen dari alokasi harian. Dia mengungkapkan, langkah tersebut akan membuat sejumlah SPBU di Jateng-DIY dari sebelumnya dalam status stok out, maka secara bertahap akan kembali normal seperti semula.

“Kita monitor di SPBU-SPBU di wilayah Semarang ke Barat, Semarang ke Selatan, Jalur Selatan, Jalur Tengah stoknya sekarang membaik,” tambah Rifky.

Rifky menambahkan, saat ini Pertamina tengah berkonsentrasi pada pengiriman jalur Pantura ke arah timur, karena adanya perbaikan jalan sehingga ada penyempitan jalan sehingga sedikit tersendat.

“Untuk wilayah-wilayah Pantura tersebut kami mengupayakan dengan menambah awak dan armada mobil tangki yang melakukan distribusi 24 jam. Bahkan dikawal oleh pihak kepolisian supaya lebih cepat,” jelas dia.

Dengan demikian, secara bertahap dalam tiga hari ke depan, pasokan distribusi solar bersubsidi di seluruh SPBU di Jateng-DIY akan kembali normal, sehingga masyarakat tidak akan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) tersebut.

Sesuai penugasan pemerintah, besaran kuota solar subsidi yang menjadi tanggung jawab Pertamina Jateng-DIY tahun ini lebih rendah 4 persen, atau sebesar 1.878.843 kiloliter (kl) dibandingkan kuota 2012 sebesar 1.947.822 kl.
_______________________________

Pakar farmakologi dan farmakokinetis klinik Indonesia Prof Dr Sri Suryawati, telah terpilih dengan suara terbanyak, sebagai anggota International Narcotics Control Board (INCB). Pemilihan itu dilakukan oleh Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) PBB, (25/4) di Markas Besar PBB, New York.

Demikian keterangan dari Perwakilan Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-bangsa di New York.

Pada pemilihan tersebut Prof Suryawati berhasil meraih 42 suara, sedangkan dua pesaingnya dari Estonia dan Suriah/Inggris masing-masing mendapatkan lima suara.

“Terpilihnya Profesor Suryawati tidak hanya menunjukkan pengakuan atas kepakaran beliau pada isu kerjasama internasional dalam pengawasan narkotika, tetapi juga mencerminkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap peran dan kontribusi Indonesia di berbagai kerjasama internasional dalam kerangka PBB,” demikian ditegaskan Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Desra Percaya, seusai pemilihan.

Sejumlah negara berharap duduknya Indonesia pada INCB akan semakin memajukan pembahasan isu-isu terkait yang menjadi fokus upaya memajukan kerjasama penanganan pengawasan obat-obatan narkotik di tingkat internasional.

Pada tataran nasional, Profesor Sri Suryawati adalah salah seorang pakar kesehatan yang karena kapasitas dan kemampuannya telah dipercaya oleh Badan POM dan Kementerian Kesehatan sebagai konsultan dalam penyusunan berbagai kebijakan kesehatan nasional.

Kepakaran Profesor Suryawati juga telah diakui oleh pihak-pihak lain di dunia international. Sejak tahun 1999, Prof Suryawati, antara lain, telah menjadi anggota WHO Advisory Panel on Medicine Policy and Management. Pada tahun 2001 – 2008 disamping sebagai konsultan mengenai essential medicine program and rational use of medicines di sejumlah negara sejak tahun 2001.

Kantor Penerangan PBB di Jakarta juga kerap melibatkan Profesor Suryawati dalam peluncuran berbagai dokumen PBB mengenai isu kesehatan, termasuk laporan tahunan INCB.

INCB adalah badan pengawasan yang bersifat independen dan quasi-judicial mengenai pengawasan obat-obatan internasional, untuk mengimplementasikan berbagai konvensi PBB mengenai obat-obatan. Badan ini dibentuk pada tahun 1968 sejalan dengan Single Convention on Narcotic Drugs tahun 1961, dan saat ini beranggotakan 13 pakar dari berbagai negara.

Profesor Suryawati selanjutnya akan menjalankan tugasnya di INCB sampai dengan tahun 2017.
_______________________________

Calon Ketua Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), baik dari Meksiko: Herminio Blanco, atau dari Brasil: Roberto Azevedo, menjadi jaminan bahwa perwakilan Amerika Latin akan menempati jabatan tertinggi dalam perdagangan global untuk pertama kalinya. Sedangkan Menteri Perdagangan Mari Pangestu dipastikan gagal dalam pemilihan tersebut.

Seorang sumber diplomatik pada Kamis mengatakan, Blanco dan Azevedo muncul sebagai satu-satunya calon yang tersisa setelah putaran kedua dari tiga putaran persaingan untuk bisa mendapatkan pengganti Direktur Jenderal WTO Pascal Lamy pada 1 September mendatang.

Sumber itu menyatakan, tiga kandidat lainnya, yakni Mari Pangestu dari Indonesia, Tim Groser dari Selandia Baru, dan Taeho Bark dari Korea Selatan, diminta untuk menarik diri dari putaran persaingan setelah dianggap tidak mampu menggalang dukungan yang cukup dari 159 anggota WTO.

Para calon telah diberi tahu bahwa hasil pemilihan dilakukan dalam pertemuan tertutup di markas WTO, di mana tiga duta senior memimpin proses selama lebih dari enam bulan untuk menentukan Ketua WTO yang baru.

Calon yang terpilih pada Mei nanti akan menghadapi tantangan besar memulihkan kepercayaan pada kemampuan WTO untuk menegosiasikan kesepakatan perdagangan global.

Azevedo adalah duta Brasil ke WTO dan Blanco menjadi negosiator perdagangan veteran yang memimpin Meksiko dalam pembicaraan perdagangan bebas NAFTA. Sebelumnya, beberapa diplomat menyatakan bahwa pejabat tertinggi WTO itu harus berasal dari Afrika atau Amerika Latin. Namun, Pascal Lamy menolak gagasan itu, dengan mengatakan tidak ada dasar geografis untuk proses pemilihan.

Namun, tidak masuknya calon dari Kenya, yakni Amina Mohamed, dan wakil Ghana, Alan Kyerematen, membuat dukungan Afrika menjadi penting bagi kandidat yang tersisa. Adapun keluarnya wakil Kosta Rika, Anabel Gonzalez, membuat dua calon tersisa dari Amerika Latin akan berjuang keras untuk merebut dukungan terbanyak. Keduanya tidak mungkin bertahan bersama hingga babak akhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =