FastBreak 5 November 2013 jam 10.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja : FastBreak

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengatakan ada dua hal yang menyebabkan sekitar 70.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi terancam dideportasi. “Sekarang jadi masalah setelah ibadah haji mereka tidak memanfaatkan momentum amnesti itu,” kata Muhaimin seusai menghadiri pembekalan calon legislatif Partai Kebangkitan Bangsa di Hotel Ritz, Kota Tegal, Senin malam, 4 November 2013.

Kebijakan amnesti dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi itu berlaku sejak pekan kedua Mei hingga 3 Juli 2013. Karena banyak banyak TKI yang melebihi izin tinggal (overstayer), kebijakan itu diperpanjang hingga 3 November.

Oktober lalu, pemerintah membantu pemulangan TKI overstayer menggunakan pesawat haji yang kembali ke Indonesia dalam keadaan kosong. Namun, TKI yang dipulangkan saat itu tidak banyak. Sebab, sebagian besar TKI belum mengurus amnesti.

“Di sisi lain, ada kendala pelayanan imigrasi di Kerajaan Saudi. Satu minggu hanya satu kali (pelayanan),” ujar Muhaimin. Saat kebijakan amnesti masih berlaku, pemerintah telah menyarankan para TKI agar segera memperbaiki status kerja mereka.

“Kalau memang (mau) pulang, disediakan waktu pemulangan. Tapi tidak dimanfaatkan,” kata Muhaimin yang juga Ketua Umum PKB. Setelah masa amnesti berakhir, pemerintah kini dihadapkan pada permasalahan sekitar 70.000 TKI overstayer yang terancam dideportasi.

Selain mengimbau TKI overstayer agar tidak panik, Muhaimin mengatakan, pemerintah sudah mengirim tim untuk memperkuat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah.

Ihwal nasib sekitar 70.000 TKI overstayer yang masih tertahan di Arab Saudi, Muhaimin menjelaskan, mereka musti membayar denda pelanggaran imigrasi untuk mengurus izin kerja lagi atau untuk pulang ke tanah air. Kini, pemerintah berupaya melobi Arab Saudi agar membuka amnesti lagi.

Pernyataan Muhaimin ihwal denda pelanggaran imigrasi yang harus dibayar TKI itu berbeda dengan keterangan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di hari yang sama. Diberitakan Tempo.co, Marty mengatakan menurut hukum internasional, biaya deportasi TKI dibebankan pada Arab Saudi.
__________________________________________________

Indonesia akan meninjau ulang kerja sama khusus di bidang pemberantasan penyelundupan manusia dan terorisme sebagai respons terhadap tindakan Australia yang selama ini memata-matai Indonesia.
Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa menyampaikan Indonesia tetap menganggap Australia memata-matai Indonesia karena hingga kini Pemerintah Australia di bawah PM Tony Abbott menolak untuk mengonfirmasi atau membantah tuduhan itu.
Padahal menurut Marty, selama ini kedua negara telah bekerja sama secara efektif berbagi banyak informasi intelijen.
“Jika Australia merasa bahwa ada cara lain mendapatkan informasi selain dari cara resmi, maka salah satu keajaiban, kita bisa bekerja sama,” kata Marty.
Kendati demikian, Indonesia, menurut Marty, tidak merespons masalah ini dengan mengusir diplomat Australia, tetapi meminta jaminan Pemerintah Australia bahwa yang diduga memata-matai Indonesia harus dihentikan.
Pekan lalu Marty juga sempat berkomentar pedas terkait laporan bahwa selama ini Kedutaan Besar Australia di Jakarta menjadi salah satu basis operasi intelijen Australia dalam memata-matai Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Marty bersamaan dengan munculnya serangan para peretas yang menamakan diri Anonymous Indonesia yang meretas sekitar 200 laman internet pengusaha Australia.
Mereka mengirimkan pesan kepada Pemerintah Australia agar menghentikan aksi memata-matai Indonesia.
_____________________________________________________

Ibu Negara Ani Yudhoyono kembali menjadi perbincangan hangat di jagat dunia maya. Hal ini lantaran Ani lagi-lagi menanggapi sinis komentar pengikut akun Instagramnya tentang foto putranya, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), yang memakai kaus lengan panjang. Bukan kali ini saja Ani berang. Ani tercatat sudah lebih dari dua kali adu argumen dengan pengikut Instagramnya.
Ada apa dengan Ibu Negara?
Pakar komunikasi politik dari Universitas Mercubuana, Heri Budianto, menilai Ani belum siap masuk ke dunia maya. Seharusnya, kata Heri, Ani tidak perlu menanggapi terlalu serius perbincangan di dunia maya.
“Saya melihat Bu Ani sangat terusik jika ada komen yang menyangkut tentang keluarganya. Mestinya tidak perlu begitu sebab aktivitas di dunia maya itu sulit dideteksi dan merupakan cyber community yang punya dinamika sosial sendiri,” ujar Heri saat dihubungi, Senin (4/11/2013).
Ketika masuk ke komunitas siber, lanjut Heri, Ani seharusnya bisa menerima segala konsekuensi termasuk menerima kritik. Jika kritik itu ditanggapi oleh Ani, Heri melihat hal itu justru merugikan.
“Jika Bu Ani terus menanggapi, justru sindiran-sindiran akan datang terus,” ucapnya.
Heri juga melihat komentar yang dilontarkan akun @devi_tri tentang baju sweater hijau lengan panjang yang dipakai Ibas merupakan hal biasa dan bentuk kepeduliannya terhadap Ibas.
“Itu hal yang wajar sebab Ibas merupakan tokoh partai yang memiliki posisi strategis di parpol besar dan cukup sering menghiasi media massa. Mestinya tidak perlu ditanggapi oleh Bu Ani seperti itu,” imbuh Heri.
Topik tentang Ibas dan baju lengan panjangnya ini berawal dari posting-an Ani di akun Instagram-nya, @aniyudhoyono, Minggu (3/11/2013) kemarin. Ani Yudhoyono, dalam posting-nya itu mengunggah foto Ibas bersama istrinya, Siti Ruby Aliya Rajasa, dan putra tunggal mereka, Airlangga Satriadhi Yudhoyono.
Di foto tersebut, terlihat Ibas bersama istri dan anaknya dengan latar rusa totol di Istana Bogor. Sebenarnya, tak ada yang istimewa dengan foto tersebut. Hal menarik adalah justru saat seorang pengikut Ani di Instagram mengomentari foto tersebut.
Adalah pemilik akun @devi_tri yang pertama kali mengomentari sweater hijau lengan panjang yang dipakai Ibas di foto tersebut. “Wah, Mas Ibas pake baju lengan panjang terus,” tulis @devi_tri.
Komentar pengikutnya itu kemudian langsung dibalas oleh Ani Yudhoyono. “Ada masalah dengan baju Ibas?” tulis Ani. “Setiap orang punya cita rasa berpakaian sendiri-sendiri. Tak perlu dipermasalahkan. Mau lengan pendek, lengan panjang, terserah saja, sepanjang yang bersangkutan merasa nyaman,” imbuhnya.
Topik tentang gaya berbusana lengan panjang Ibas ini sebenarnya sudah lama jadi perbincangan di dunia maya. Ani pun bukan kali ini saja berkomentar sinis terhadap pemilik akun Instagram yang menanyakan atau sekadar menyinggung gaya Ibas itu.
Beberapa bulan lalu, Ani pernah mengunggah foto jepretannya yakni Ibas yang tengah bermain air dengan Airlangga di kolam renang. Ketika itu, Ibas menggunakan baju renang lengan panjang seperti hendak menyelam meski berada di kolam yang dangkal.
Seorang pengguna akun pun bertanya kepada Ani, dan langsung dijawab sinis. Tak berhenti di situ, pada medio Oktober 2013, Ani juga tak bisa menahan amarahnya ketika ada seorang pengikut akun Instagram berkomentar soal pakaian batik yang dikenakan keluarganya di Pantai Klayar. Ibu Ani bahkan sempat mengeluarkan kata “bodoh” kepada komentator itu.
Pada Agustus 2013, Ibu Ani juga sempat berdebat dengan pengikutnya yang mengira foto Almira Tunggadewi yang akrab disapa Aira di Istana Merdeka adalah hasil editan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × five =