FastBreak 6 Februari 2014 jam 17.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja : FastBreak

Permintaan gamelan produksi Pelem Lor, Baturetno, Banguntapan terus mengalami peningkatan. Order tidak hanya dari lokal DIY, tetapi pemesan datang hampir dari semua wilayah di Indonesia, termasuk dari sejumlah negara di Asia, Eropa dan Amerika. Legiyono pengelola pembuatan gamelan didampingi Sumini, Rabu (5/2) mengungkapkan, sebenarnya permintaan gamelan dari berbagai daerah sangat banyak.

Tetapi Legiyono sadar tidak mungkin semua diterima dengan pertimbangan waktu pembuatan cukup lama. Dijelaskan untuk satu set gamelan berbahan baku besi membutuhkan waktu sebulan lebih. Sementara khusus gamelan berbahan baku kuningan, hampir tiga bulan. Untuk menjaga kualitas, setiap pemesan gamelan langsung dibuatkan di rumahnya. Sehingga ketika pesanan sudah banyak, jika ada order susulan sudah tidak dilayani. “Jika dihitung waktunya dirasa sudah tidak mampu, pasti saya tolak, tidak mungkin diambilkan dari tempat lain,” jelasnya.

Legiyono berprinsip ketika konsumen pesan di rumahnya berarti menghendaki gamelan buatannya. Tidak diambilkan dari pengepul atau pembuat gamelan lainnya. Dalam membuat gamelan, memang tidak bisa sembarangan atau asal bunyi. Tetapi harus mempertimbangkan kualitas bahan sehingga ketika ‘disetel’ tidak akan berubah. Bahkan Legiyono berani memberikan garansi hingga satu tahun. “Kami bertanggungjawab penuh atas gamelan buatan saya, amanah orangtua harus dijaga,” ujarnya.

Satu set gamelan berbabahan besi kisaran Rp 55 juta sementara untuk bahan kuningan mencapai Rp 160 juta. Sejumlah negara yang sudah pernah order diantaranya, Itali, Amerika, Singapura, Malaysia serta Uruguay.

——————————————————————————

Indonesia Nasional Air Carriers Association (Inaca) meminta kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk segera memutuskan tarif batas atas harga tiket pesawat. Pasalnya, sudah hampir enam bulan, Kemenhub belum juga menentukan sikapnya.

Ketua Umum Inaca Arif Wibowo di Jakarta kemarin mengatakan, pelaku usaha penerbangan tidak akan mempersoalkan mengenai daya beli masyarakat yang akan menurun jika tarif batas atas sudah diputuskan.

“Tidak apa-apa, itu akan ada peak day, batas atas akan dialami akan di periode-periode peak,”paparnya di Jakarta, Rabu (5/2/2014).

Dia yakin, jika penetapan tarif batas atas telah disepakati dan telah diputuskan oleh pemerintah, maka masyarakat dengan sendirinya akan terbiasa dengan kenaikan tarif batas atas tersebut.

Sebab, kenaikan tarif batas atas hanya dilakukan di periode-periode tertentu saja. “Kalau mereka akan jalan, pasti jalan, Kalau hari biasa maskapai juga ga akan pakai batas atas,” tambahnya.

Oleh karena itu, sambungnya lagi, Inaca sangat berharap jika pemerintah dapat cepat memutuskan kenaikan batas atas tersebut. Adapun, Inaca sendiri berkeinginan kenaikan itu pun sekitar 20 persen. “Sesuai dengan depresiasi kurs, kita idealnya 20 persen,” ungkapnya.

Inaca juga menilai  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dinilai lamban dalam menentukan batas atas harga tiket. Hal tersebut terlihat dari pergerakan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar yang telah melewati Rp 10.000 per lembarnya.

Padahal  saat ini pelaku usaha penerbangan hampir 70 persencost operasionalnya dipengaruhi oleh dollar AS. Oleh karena itu, isu pergerakan kurs masih menjadi isu utama dalam dunia penerbangan di Indonesia. “Airlines itu harus dinamis dalam melakukan pricing kita masih tertahan oleh batas atas,” jelasnya lagi.

Masih kata dia, dengan belum melakukannya penetapan batas atas harga yang tiket pesawat ini, membuat maskapai penerbangan domestik mengalami masa sulit. Adapun, kata dia, para manajemen maskapai penerbangan domestik selalu mencari solusi guna menutupi kesulitan tersebut.

“Ini kan sudah hampir enam bulan dibicarakan, tapi belum juga diputuskan. Ini harus direspon dengan baik kalau mau menolong airlines domestik,” tambahnya.

Direktur Utama Citilink Indonesia itu juga mengatakan, hampir seluruh maskapai domestik mengalami kesulitan lantaran belum juga diputuskan tarif batas atas tersebut. Dirinya menilai, pemerintah dalam hal ini Kemenhub lamban dalam menentukan sikapnya.

“Apa susahnya tinggal putusin saja, mereka juga mengerti kok, semua airlines memang sedang mengalami kesulitan, tapi ada juga yang paling mengalami kesulitan,” ungkapnya.

——————————————————————————————-

Para ahli khawatir dengan penyebaran flu burung jenis baru yang telah menewaskan seorang orang perempuan di Cina.

Pasien berusia 73 tahun dari Kota Nanchang itu tertular virus H10N8 setelah mendatangi sebuah pasar unggas hidup, meski tidak diketahui apakah hal itu sumber infeksi. Orang kedua yang terinfeksi berasal dari provinsi Jiangxi.

Para ilmuan mengatakan kepada The Lancet bahwa potensi virus baru tersebut untuk berkembang menjadi pandemi sebaiknya “jangan dianggap enteng.”

Virus flu burung jenis baru ini belum pernah ditemukan sebelumnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Cina sudah disibukkan dengan upaya pengendalian virus flu yang tidak pernah dikenal sebelumnya yaitu H7N9.

Virus itu menewaskan seperempat dari total orang yang tertular.

Para ilmuan yang mempelajari virus H10N8 itu mengatakan jenis baru ini memiliki karakter genetik yang memungkinkannya berkembang biak dengan efisien pada manusia.

Kecemasan terbesar adalah bila kelak virus ini bisa menyebar antar manusia.

Dr John McCauley Direktur Influenza WHO mengatakan, “Kasus ini mengingatkan kita untuk waspada terhadap infeksi pada manusia dari virus flu hewan, seperti kasus-kasus H7N9 di Cina yang meningkat setiap harinya.

“Sebelumnya kita tidak pernah berpikir bahwa H7N9 bisa mematikan. Kini, kita harus juga memikirkan infeksi H10N8.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 2 =