FastBreak 7 Mei 2013 jam 10.00

FastBreak

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia dalam sidang tahunan di Jenewa Swiss mendapatkan sertifikat akreditasi “A” terhadap Paris Principles 2012-2017.

Hal ini disampaikan Ketua Komnas-HAM Indonesia, Siti Noor Laila yang sedang menghadiri Sidang Tahunan ICC (International Coordinating Comite) di Jenewa Swiss 6–8 Mei 2013.

Dalam sidang ICC tahun ini, Indonesia melalui Komnas-HAM mendapatkan sertifikat akreditasi “A” terhadap Paris Principles 2012–2017 yang diterima oleh Ketua Komnas-HAM Indonesia Siti Noor Laila.

Menurut Laila, sidang ICC ini selain memberikan penghargaan tersebut, juga membahas isu-isu seperti Human Rights Defenders, Ecosoc Rights and Business, dan isu hak asasi manusia umumnya.

Delegasi Indonesia dalam pertemuan itu diwakili oleh Ketua Komnas-HAM dan Wakil Ketua Eksternal Dianto Bachria, dididampingi Kepala Bagian Persidangan dan Kerja sama.

Laila menegaskan bahwa penghargaan itu diperoleh berkat kerja yang berkesinambungan dari seluruh Komisioner Komnas-HAM Indonesia periode sebelumnya hingga periode sekarang.

“Penghargaan itu juga berkat dukungan masyarakat sipil, pers serta semua pihak terhadap kerja Komnas-HAM,” kata dia lagi.
____________________________________________________________

Panitia “Ruwat-Rawat Borobudur” menyiapkan satu rangkaian agenda kebudayaan berupa Festival Topeng Ireng dengan rencana tempat di kawasan parkir kendaraan pariwisata PT Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Sedang kami persiapkan, sampai sekarang sudah ada 10 grup yang akan mengikuti,” kata Koordinator Festival Topeng Ireng dalam rangkaian “Ruwat-Rawat Borobudur” Agus “Merapi” Suyitno di Borobudur, Senin.

Menurut sejumlah kalangan, katanya, tarian Topeng Ireng atau juga disebut oleh masyarakat sebagai tarian “Ndayakan” lahir di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang.

Akan tetapi, katanya, saat ini berbagai grup kesenian tradisional di kecamatan-kecamatan di daerah itu juga mempelajari tarian tersebut.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Magelang mencatat hingga saat ini sekitar 125 grup kesenian Topeng Ireng di daerah setempat. Setiap grup kesenian itu, beranggota sekitar 30 orang.

“Bahkan ada juga di Boyolali, Klaten, dan Temanggung. Itu artinya apa yang terjadi di masyarakat Borobudur itu juga menggerakkan masyarakat di tempat lainnya,” katanya.

Penari Topeng Ireng menggunakan aksesoris tatanan bulu ayam di kepala seperti halnya suku Indian, sedangkan di kedua kakinya dipasang sejumlah bel ukuran kecil. Tabuhan pengiring tarian Topeng Ireng antara lain bende, jedor, dan kendang.

“Sekarang telah berkembang alat musiknya seperti pemakaian bas gitar dan organ. Melalui festival itu makin digarap tata musik, busana, dan penampilan,” kata Agus yang juga staf Seksi Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang itu.

Festival Topeng Ireng rencananya pada 21-23 Mei 2013, sedangkan peserta yang telah mendaftar hingga saat ini, antara lain berasal dari Kecamatan Secang, Ngablak, Srumbung, Ngluwar, Tempuran, Muntilan, dan Sawangan.

“Masih ada kesempatan untuk mendaftarkan, bagi grup kesenian Topeng Ireng yang akan ikut,” katanya.

Juri festival tersebut, katanya, dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ISI Solo, dan seniman Magelang.

Agenda budaya “Ruwat-Rawat Borobudur” berlangsung sejak 2 Mei hingga 16 Juni 2013, kerja sama antara komunitas Borobudur “Warung Info Jagat Cleguk” dengan Yayasan Soloensis dan Peguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Borobudur.

Lokasi kegiatan selain di Candi Borobudur juga di sejumlah desa di kawasan candi yang juga warisan budaya dunia tersebut. Beberapa kegiatan, antara lain pentas kesenian tradisional, kontemporer, dan kolaborasi, beberapa prosesi tradisi ritual, festival kesenian rakyat, sarasehan, serta lokakarya budaya.
_______________________________________________________

Benda-benda kenangan dari penerbangan Apollo 11 ke bulan segera dilelang. Termasuk dalam item benda yang dilelang adalah catatan EKG detak jantung astronot Neil Armstrong, yang diambil ketika ia pertama kali melangkah di bulan.

“Elektrokardiogram dari komandan Apollo 11 merupakan bagian penting dari sejarah,” kata juru bicara RR Auction, biro lelang di AS.

Menurut Wakil Presiden RR Auction, Bobby Livingston, apa yang terjadi dengan detak jantung Amstrong ketika ia berhasil mendarat di bulan tak banyak diketahui orang. “Ini adalah tentang hidup atau mati misi itu dan memahami apa yang Armstrong rasakan saat mendarat hal yang luar biasa bagaimana tubuh manusia mampu bertahan,” katanya.

Selain catatan EKG, benda lain yang dilelang adalah ‘joystick’ milik Buzz Adlrin dan pilot Michael Collins selama misi pendaratan pertama di bulan pertama. Juga peta bulan, peralatan, tanda tangan yang tak terhitung jumlahnya dan foto-foto yang tadinya tak direncanakan dibuat untuk dijual.

Benda-benda yang akan dilelang sebagian besar  koleksi pribadi sang astronot. Lelang dijadwalkan akan berlangsung pada 16-23 Mei.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 12 =