FastBreak 9 Mei 2014 jam 14.00

FastBreak

Unisi Radio Jogja : FastBreak

Seluruh Kecamatan di Yogya Akan Miliki Gamelan

Seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta direncanakan akan memiliki peralatan gamelan pada 2014 ini. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta menggangarkan dana sebesar Rp 1,1 miliar.

Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Budi Santoso, dari 14 kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta, baru lima kecamatan yang memiliki peralatan gamelan. Lima kecamatan tersebut adalah Umbulharjo, Gondokusuman, Danurejan, Ngampilan dan Jetis.

“Baru lima kecamatan yang sudah memiliki gamelan. Untuk tahun ini diupayakan ada penambahan gamelan, sehingga semua kecamatan memiliki gamelan,” kata Budi Santoso kepada wartawan, Jumat (9/5/2014).

Untuk pengadaan gamelan tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta menggangarkan dana sebesar Rp 1,1 miliar. Dana tersebut berasal dari APBD Kota Yogyakarta tahun 2014.

Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa tidak semua kecamatan yang belum memiliki gamelan akan mendapatkan gamelan dari dana yang sudah dianggarkan. Dimana ada tiga kecamatan yang akan mendapatkan gamelan dari Pemda DIY, kecamatan tersebut meliputi Kraton, Pakualaman dan Kotagede.

“Untuk yang dari APBD, ada enam kecamatan yang akan mendapatkan yakni Gedongtengen, Gondomanan, Mantrijeron, Mergangsan, Wirobrajan dan Tegalrejo,” kata Budi.

tribunnews.com

===============================================================

Taman Budaya Yogyakarta Gelar Karawitan Orkestra

Sebagai upaya pelestarian dan pengembangan seni karawitan, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) akan melangsungkan Gelar Karawitan Orkestra pada Jumat (9/5/2014) mulai pukul 19.30 bertempat di Concert Hall.

Pagelaran ini akan diikuti oleh lima kelompok dari lima kabupaten/kota di Yogyakarta. Kemudian, yang menjadi keunikan dari pegelaran ini, setiap kelompok dipimpin oleh lima komposer muda asal Yogyakarta.

Untuk kelompok Aji Saka dipimpin oleh Roni A Wahyudi dari Wonosari, Bergada Menoreh dipimpin Mujiyanto dari Kulon Progo dan Gumalanging Tekad dipimpin Fajar Cothiet asal Sleman. Adapun Tirta Kencana dipimpin Saryanto dari Bantul dan Carajawen dipimpin Anon Suneka dari Kota Yogyakarta.

Menurut Pardiman Djojonegoro, selaku direktur produksi acara ini, saat ini masih banyak masyarakat di Yogyakarta yang sudah bisa menabuh alat kesenian karawitan dengan terampil baik dari tingkat pendidikan SMP, SMA, mahasiswa hingga orang tua. Namun, mereka masih tidak mengetahui makna dan belum bisa menjiwai karakter dari alat yang ditabuh tersebut.

“Selain terampil, sejatinya penabuh kesenian karawitan harus bisa memaknai dan mengenal karakter dari alat tersebut. Hal itu dilakukan, agar mereka bisa memainkannya dengan sepenuh hati, sehingga alunan musik karawitan lebih hidup,” ujarnya pada Jumat (9/5/2014).

Pardiman menambahkan, pagelaran diikuti oleh 150 orang terdiri dari pelajar tingkat TK hingga SMA untuk menabuh dan beberapa mahasiswa bertugas sebagai pendukung tim. Melibatkan pelajar khususnya tingkat SD dan SMP, karena pagelaran sebagai ajang pengenalan kesenian tradisional yang mana sebagai budaya asli Indonesia.

“Saat ini Negara Indonesia banyak dimasuki budaya-budaya asing. Maka dari itu, ajang ini kita jadikan sebagai alat pelestarian budaya, agar tidak hilang. Kemudian, pagelaran karawitan ini tidak bersifat kompetisi, tetapi saling menunjukan seberapa besar penjiwaan masing-masing tim dalam memainkan alat alat tersebut,” sambung Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Diah Tutuko Suryandaru.

TBY melalui acara pagelaran ini berharap bisa dijadikan ajang pembelajaran dan pelestarian seni tradisional karawitan di Yogyakarta, bagi generasi muda Indonesia khususnya di Yogyakarta. Acara ini

terbuka untuk umum dan gratis.

tribunnews.com

==============================================================

Pagi Ini, Gunung Slamet “Batuk” 14 Kali

Gunung Slamet tercatat 14 kali meletus dan mengeluarkan abu vulkanik berwarna kelabu tebal setinggi 600 meter, serta satu kali mengeluarkan sinar api (lava pijar), Jumat (9/5/2014) pagi.

“Ketinggian lontaran lava pijar itu mencapai 200 meter,” kata Ketua Pos Pemantauan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sudrajat.

Dia mengatakan, peristiwa vulkanik tersebut terjadi dalam rentang waktu pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB. Abu vulkanik mengarah ke barat yang mencakup wilayah Kabupaten Tegal dan Brebes.

“Namun, karena lontaran yang tidak terlalu tinggi, kemungkinan abu hanya sampai di sekitar lereng gunung saja,” terang Sudrajat, Jumat (9/5/2014) pagi.

Sementara itu, dari sisi kegempaan, kata Sudrajat, tercatat sebanyak 14 kali gempa letusan dan 18 kali gempa embusan, serta satu kali gempa tektonik.

Hingga berita ini diunggah, status gunung yang berada di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, itu masih tetap berstatus Siaga (Level III). Masyarakat diimbau agar tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak.

kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + thirteen =