[Review] Aach… Aku Jatuh Cinta

Latar

Unisi Radio Jogja: LATAR

00081957

Garin Nugroho kerap menyematkan judul bernada puitis dalam filmnya yang lalu-lalu. Lihat saja Bulan Tertusuk Ilalang, Daun di Atas Bantal, atau Puisi Tak Terkuburkan. Kemudian tiba-tiba ia muncul di awal tahun ini dengan judul yang terasa sungguh genit, Aach…Aku Jatuh Cinta.

Dan Aach..Aku Jatuh Cinta, rasanya memang segenit judulnya. Segenit dua anak muda yang baru mulai belajar tentang asmara, yang memang menjadi tema besar film ini.

Adalah Yulia (Pevita Pearce), seorang dara yang tengah bernostalgia tentang satu sosok di masa lalunya, Rumi (Chicco Jerikho). Lagu “Dari Mana Datangnya Asmara” ciptaan Ismail Marzuki yang muncul di awal film, seperti mewakili perasaan Yulia kala itu.

“Dari mana datangnya asmara, aku pun tak mengetahui.
Cara bagaimana dia dapat memikat di hati?
Bagaimana datangnya asmara, merajalela di hati
Tak dapat aku membantah, walaupun dahulu benci.”

Ya, Julia tak tahu bagaimana Rumi berhasil memikat hatinya. Karena seingatnya, hubungan keduanya sejak kecil bagai karakter kartun Tom and Jerry. Jarang akur, selalu rusuh. Ada saja polah Rumi yang membuat Yulia menekuk wajahnya. Yang tak Yulia sadari, seperti Jerry yang baru lengkap setelah ada Tom, ia selalu merasa kehilangan setiap sahabat masa kecilnya itu tak berada di sampingnya.

Di Aach..Aku Jatuh Cinta, Garin banyak menampilkan hal-hal pemanis di mata. Ia banyak bermain warna, terutama lewat kostum para pemain yang bagai keluar dari majalah mode beberapa dekade lampau. Meski terasa sedikit centil, Garin Nugroho tak lantas membuat Aach.. Aku Jatuh Cinta terlampau ngepop.

Ia tak meninggalkan sisi puitisnya. Garin menyelipkannya dalam dialog-dialog Yulia dan Rumi yang penuh bahasa ‘berbunga’. Atau lewat gestur puitis seperti bertukar surat dalam sebuah botol limun dan puisi-puisi yang ditulis dalam buku harian.

Aach…Aku Jatuh Cinta juga bukan sebuah film yang terlalu serius berbicara tentang cinta, justru sebaliknya. Film ini juga sarat humor, seimbang dengan porsi drama di dalamnya. Ada satu adegan menggelitik yang cukup menarik, yaitu kala Rumi kecil mengintip rok perempuan di bawah meja dengan bantuan korek api. Ini, adalah sebuah konstruksi ulang dari satu adegan dalam film Garin yang legendaris, Daun di Atas Bantal.

Chicco Jerikho, kembali tampil cemerlang lewat film ini. Meski badannya kelewat kekar dan wajahnya terlalu matang untuk ukuran anak SMA, ia memainkan peran Rumi dengan luwes. Baik saat menghadirkan Rumi si tukang bikin onar yang berkata semaunya, atau kala menampilkan adegan emosional.

Sebelum diputar di Indonesia, Aach…Aku Jatuh Cinta sudah tayang di tiga festival film internasional. Yang pertama adalah world premiere di Busan International Film Festival 2015,berlanjut ke Jogja-NETPAC Asian International Film Festival (JAFF) pada Desember 2015 di Yogyakarta. Terakhir, film ini diputar di International Film Festival Rotterdam (IFFR) di Belanda pada awal bulan ini.

Ada pun untuk publik Indonesia , Aach… Aku Jatuh Cinta diputar di bioskop Tanah Air mulai 4 Februari 2016.

liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × five =